Jakarta – Kinerja saham emiten di bawah naungan Grup Alamtri sepanjang tahun 2026 menunjukkan performa yang bervariasi, menuntut investor untuk menerapkan strategi spesifik bagi setiap entitas perusahaan.
Data perdagangan hingga Senin (29/6/2026) mencatat saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) melesat 25,27 persen secara year to date (ytd) ke posisi Rp 2.280 per saham.
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) turut membukukan pertumbuhan harga sebesar 12,77 persen ytd ke level Rp 7.950 per saham.
Kondisi berbeda dialami oleh PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang justru mengalami koreksi harga sebesar 17,02 persen ytd ke level Rp 1.365 per saham.
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menjelaskan bahwa lonjakan harga pada ADRO dan AADI didorong oleh persepsi pasar terhadap keuntungan dari kenaikan harga batubara termal.
Kedua emiten tersebut dinilai memiliki daya tarik tambahan berkat kebijakan pembagian dividen yang cukup royal kepada para pemegang saham.
Ekky menambahkan bahwa untuk AADI, apresiasi harga didukung oleh fokus bisnis pada produksi batubara termal rendah sulfur dan abu dengan imbal hasil dividen yang menarik.
Sementara itu, penguatan ADRO ditopang oleh narasi pembelian kembali saham atau buyback, pembagian dividen, serta prospek jangka panjang dari pengembangan bisnis aluminium.
Di sisi lain, ADMR cenderung tertekan karena portofolio utamanya yang lebih berfokus pada batubara metalurgi.
Kondisi tersebut membuat ADMR tidak mendapatkan keuntungan langsung dari tren penguatan harga batubara termal yang terjadi di pasar global.
Di sisi lain, potensi upside ADMR juga masih sangat bergantung pada pemulihan harga batubara metalurgi dan progres proyek hilirisasi aluminiumnya, sehingga pasar cenderung lebih hati-hati, ungkap Ekky pada Senin (29/6/2026).
Senada dengan hal tersebut, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyoroti bahwa krisis energi global menjadi katalis utama bagi saham ADRO dan AADI.
Kedua emiten tersebut memiliki leverage tinggi terhadap harga komoditas, ditambah dengan margin operasional yang pulih lebih cepat akibat struktur biaya tambang yang stabil.
ADRO juga didukung narasi transformasi energi baru terbarukan (EBT) yang kuat melalui proyek pembangkit hidro 1,3 gigawatt (GW), pembangkit surya 0,4 GW, dan ekspor listrik ke Singapura yang memberikan valuasi premium, jelas Abida, Senin (29/6/2026).
Prospek positif pada semester II-2026 diprediksi berlanjut seiring wacana kenaikan harga Domestic Market Obligation (DMO) dan relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Meski demikian, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengingatkan adanya risiko dari volatilitas kurs rupiah yang dapat memengaruhi beban operasional perusahaan.
Selain itu, peningkatan rasio pengupasan lahan atau stripping ratio berpotensi menaikkan biaya produksi di tengah ketidakpastian kebijakan pungutan ekspor.
Nafan menilai AADI memiliki posisi paling unggul karena telah menjadi kendaraan utama yang mengonsolidasikan seluruh bisnis batubara Grup Alamtri pasca restrukturisasi internal.
Rencana aksi korporasi strategis dan dukungan ekosistem Grup Alamtri memberikan bantalan likuiditas yang kuat bagi AADI, terang Nafan, Senin (29/6/2026).
Nafan merekomendasikan add untuk saham AADI dengan target harga di level Rp 9.475 per saham.
Secara teknikal, saham AADI dapat dipertimbangkan investor dengan target jangka pendek hingga menengah menuju area Rp 9.450 per saham dengan potensi penguatan lebih lanjut ke kisaran Rp 12.000 hingga Rp 12.500 per saham.
























