Jakarta – Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) akan memprioritaskan pemetaan kontribusi perempuan pengusaha ultra mikro sebagai pilar utama ekonomi nasional.
Langkah ini diwujudkan melalui kolaborasi strategis antara PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Badan Pusat Statistik (BPS), dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA).
Ketiga lembaga tersebut resmi memulai rangkaian persiapan melalui acara Kick Off bertajuk “Bersama Perempuan Berdaya Membangun Ekonomi Indonesia” pada Jumat (3/7).
Sinergi ini bertujuan menghasilkan data akurat mengenai peran perempuan yang kini mendominasi sektor usaha ultra mikro di berbagai pelosok daerah.
Direktur Utama PNM, Kindaris, menegaskan bahwa keterlibatan lintas instansi sangat krusial untuk memperkuat posisi perempuan sebagai tulang punggung ekonomi.
“Kolaborasi antar instansi bermakna penting karena perempuan menjadi tulang punggung keluarga dan roda penggerak ekonomi dan nasional,” ujar Kindaris.
Data BPS mencatat tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan Indonesia telah mencapai 56 persen, dengan 32 persen di antaranya berstatus sebagai pengusaha.
Menteri PPPA, Arifatul Choiri Fauzi, memberikan apresiasi tinggi kepada para nasabah PNM Mekaar yang dinilai sebagai pahlawan bagi keluarga dan bangsa.
“Ibu-ibu Mekaar adalah pahlawan keluarga dan pahlawan bangsa. Kita harus apresiasi perempuan ini yang tidak akan diam untuk urusan keluarga, akan melakukan yang terbaik,” kata Arifatul.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menambahkan bahwa nasabah Mekaar merupakan representasi nyata dari perempuan berdaya yang berkontribusi langsung terhadap roda ekonomi.
“Ibu-ibu Mekaar ini contoh perempuan berdaya dan kontributor terhadap roda ekonomi Indonesia,” tutur Amalia.
Sensus Ekonomi 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung pada Mei hingga Agustus 2026 di seluruh wilayah Indonesia.
Hasil pendataan ini nantinya akan menjadi acuan utama pemerintah dalam menyusun kebijakan pemberdayaan ekonomi perempuan yang lebih inklusif dan tepat sasaran.






















