Jakarta – Indeks IDX Value30 menunjukkan ketahanan performa yang signifikan di tengah fluktuasi pasar saham nasional yang masih menantang.
Data Google Finance per Rabu (29/7/2026) mencatat indeks yang berisi saham-saham dengan valuasi rendah namun berfundamental kuat ini mampu membukukan pertumbuhan sebesar 6,36% dalam satu bulan terakhir.
Capaian tersebut melampaui kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada periode yang sama hanya mampu menguat sebesar 4,65%.
Meski secara akumulasi sejak awal tahun (year to date) indeks ini masih mencatatkan koreksi sebesar 17,75%, angka tersebut tetap lebih moderat dibandingkan penurunan IHSG yang mencapai 30,37%.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa performa unggul IDX Value30 dipicu oleh reaksi pasar setelah koreksi panjang yang terjadi sejak awal tahun.
Ia menilai sebagian besar risiko fundamental telah terefleksikan dalam harga saham sehingga potensi kenaikan dari titik terendah menjadi lebih terbuka.
“Investor institusi domestik mulai mengakumulasi saham-saham big caps perbankan dan konsumer yang sudah terdiskon sangat dalam, sehingga menjadi konfirmasi berbaliknya sentimen yang lebih terstruktur,” ujar dia, Rabu (29/7/2026).
Fenomena rotasi aset dari saham bertema pertumbuhan cepat (growth) menuju saham berbasis nilai (value) dianggap sebagai respons rasional pasar.
Langkah ini diambil investor untuk mencari margin of safety yang lebih aman di tengah ketidakpastian makroekonomi yang masih dinamis.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai penguatan indeks dalam sebulan terakhir merupakan bagian dari proses normalisasi valuasi.
Proses ini didukung oleh membaiknya selera risiko investor serta ekspektasi positif terhadap pemulihan kinerja emiten konstituen indeks.
Menurut Nafan, peluang untuk terus mengungguli indeks utama masih terbuka lebar bagi IDX Value30.
Syarat utamanya adalah stabilitas makroekonomi, konsistensi laporan keuangan emiten, serta kembalinya aliran dana asing ke pasar domestik.
Abida menambahkan bahwa daya tarik indeks ini semakin kuat karena tawaran yield dividen yang kompetitif bagi para pemegang saham.
Sektor perbankan diprediksi akan kembali menjadi motor penggerak utama karena memiliki rasio price to book value (PBV) terendah dalam lima tahun terakhir.
Selain perbankan, emiten sektor konsumer seperti ICBP dan INDF dinilai memiliki daya tahan tinggi karena kemampuan perusahaan dalam menyesuaikan harga jual produk.
Saham ANTM juga dipandang berpotensi memberikan kontribusi positif seiring dengan tren harga emas dunia yang masih berada di atas level US$ 4.000 per ons troi.
Terkait strategi investasi, para analis menyarankan agar pelaku pasar tetap selektif dalam mengambil keputusan.
Nafan menekankan bahwa label valuasi murah tidak selalu menjamin prospek fundamental yang seragam bagi setiap emiten.
“Fokus sebaiknya diarahkan pada emiten yang tidak hanya murah secara valuasi, tetapi juga memiliki fundamental yang kuat dan katalis pertumbuhan yang jelas,” kata Nafan, Rabu (29/7/2026).
Sebagai rekomendasi, investor disarankan untuk melakukan akumulasi bertahap dalam jangka waktu satu hingga dua bulan ke depan.
Prioritas utama diarahkan pada saham dengan yield dividen di atas 5% sebagai bantalan pendapatan (income buffer) di tengah volatilitas pasar.





















