Jakarta – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan mengalami volatilitas tinggi pada perdagangan awal pekan depan.
Kondisi pasar saat ini mencerminkan sikap wait and see dari para investor di tengah minimnya sentimen penggerak pasar yang kuat.
IHSG menutup perdagangan akhir pekan lalu dengan penguatan tipis sebesar 0,20% ke level 5.924,36.
Secara akumulatif dalam sepekan terakhir, indeks mencatatkan kenaikan sebesar 0,83%.
Founder WH-Project, William Hartanto, menyoroti lemahnya nilai transaksi harian yang hanya mencapai Rp 7,5 triliun pada perdagangan Jumat lalu.
“Nilai transaksi IHSG pada perdagangan kemarin hanya Rp 7,5 triliun. Ini menunjukkan bahwa perdagangan sangat sepi, cerminan dari pasar yang kekurangan sentimen,” ujarnya, Minggu (12/7/2026).
Meskipun volume perdagangan cenderung lesu, William menilai peluang IHSG untuk kembali menguji level resistance di angka 6.000 masih terbuka lebar.
Ia memproyeksikan indeks akan bergerak pada rentang 5.888 hingga 6.040 pada perdagangan Senin (13/7/2026).
Sementara itu, Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menambahkan bahwa IHSG dalam jangka pendek akan cenderung bergerak sideways dengan volatilitas yang dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu sorotan utama yang memicu premi risiko di pasar keuangan global.
Investor kini tengah mencermati potensi gangguan pasokan energi dunia melalui Selat Hormuz akibat eskalasi konflik tersebut.
Selain faktor geopolitik, pasar juga sangat menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
“Selama tidak muncul eskalasi geopolitik yang lebih besar maupun kejutan dari kebijakan moneter global, IHSG diperkirakan masih mampu bertahan dengan pola konsolidasi sambil menunggu sentimen baru,” kata Hendra, Minggu (12/7/2026).
Hendra memprediksi IHSG akan bergerak di kisaran area 5.850 hingga 6.000 pada awal pekan ini.
Fundamental ekonomi domestik yang solid, seperti proyeksi pertumbuhan ekonomi di level 5% dan stabilnya kinerja perbankan, dinilai masih menjadi bantalan bagi pasar saham Indonesia.
Namun, penguatan tersebut masih dibayangi oleh tekanan pelemahan nilai tukar rupiah serta berlanjutnya aksi jual oleh investor asing.
Kondisi ini membuat pelaku pasar lebih selektif dengan memusatkan dana pada saham berkapitalisasi besar yang memiliki fundamental kuat.
Untuk strategi perdagangan, William merekomendasikan pembelian saham GULA dengan target harga Rp 700 – Rp 715 dan AMRT di rentang Rp 1.445 – Rp 1.480.
Sedangkan Hendra menyarankan strategi trading buy untuk saham ADRO dengan target Rp 2.500, PGEO di level Rp 1.100, PGAS di Rp 1.575, serta TINS di harga Rp 3.750 per saham.
Investor tetap diimbau untuk disiplin dalam menerapkan batas kerugian atau stop loss di tengah tingginya ketidakpastian pasar global saat ini.






















