Jakarta – PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menolak memberikan tanggapan resmi terkait rumor rencana pencatatan saham ganda atau dual listing di Bursa Efek Hong Kong.
Manajemen perusahaan memilih untuk bersikap tertutup meski isu mengenai langkah ekspansi pasar modal tersebut terus bergulir di kalangan investor.
Spekulasi mengenai rencana tersebut pertama kali mencuat melalui laporan Bloomberg yang menyebutkan bahwa emiten pertambangan ini tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah bank investasi.
Langkah ini ditengarai bertujuan untuk memfasilitasi proses penawaran saham di pasar modal Hong Kong dalam waktu dekat.
Sumber yang memahami masalah ini mengungkapkan bahwa pembahasan tersebut bersifat internal dan rahasia, sehingga belum ada pengumuman resmi yang dirilis ke publik.
Vice President Corporate Communications Amman Mineral Internasional, Kartika Octaviana, menegaskan bahwa perusahaan enggan menanggapi berbagai spekulasi yang beredar di pasar saat ini.
“Kami tidak bisa memberikan komentar atas spekulasi yang beredar di pasar,” ujarnya dikutip dari laman resmi perusahaan, Senin (13/7).
Menurut Kartika, prioritas utama perseroan saat ini adalah merealisasikan strategi bisnis yang telah disusun oleh jajaran direksi.
“Kami juga terus mendorong pertumbuhan berkelanjutan serta penciptaan nilai jangka panjang bagi para pemegang saham,” tambahnya.
Fokus manajemen saat ini terlihat diarahkan pada optimalisasi operasional tambang dan penguatan fundamental perusahaan di tengah dinamika pasar komoditas global.
Apabila rencana dual listing ini benar-benar direalisasikan, AMMN akan menyusul jejak PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Sebelumnya, pemegang saham Merdeka Gold Resources telah melepas Hong Kong Depositary Receipt (HKDRT) senilai US$ 304 juta pada Juni lalu.
Pasar bursa Hong Kong sendiri tetap menjadi magnet bagi perusahaan global meskipun sempat mengalami tren penurunan sepanjang tahun 2026.
Data menunjukkan bahwa bursa tersebut telah menghimpun dana segar hampir US$ 35 miliar melalui berbagai aksi korporasi penjualan saham perdana.
Salah satu aksi korporasi jumbo yang tercatat di bursa tersebut adalah pencatatan saham pemasok komponen Apple, Luxshare Precision Industry, senilai US$ 3,1 miliar.
Di sisi lain, pergerakan harga saham AMMN di Bursa Efek Indonesia justru menunjukkan respons positif di tengah isu tersebut.
Saham AMMN terpantau menguat 0,85 persen ke posisi Rp 3.540 per lembar pada perdagangan Senin (13/7) siang.
Namun, penguatan tersebut masih belum mampu membalikkan tren negatif yang dialami saham perusahaan sepanjang tahun berjalan.
Data perdagangan mencatat harga saham AMMN telah terkoreksi sebesar 44,90 persen secara year to date (ytd).
Kondisi pasar modal domestik saat ini juga tengah dipengaruhi oleh sentimen eksternal yang cukup kuat, termasuk tekanan inflasi global.
Selain itu, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, turut memberikan tekanan pada aset-aset berisiko di pasar berkembang.
Fluktuasi nilai tukar Rupiah yang melemah ke level Rp 18.145 per Dolar AS pada hari yang sama juga menjadi perhatian utama bagi para pelaku pasar.
Pelemahan mata uang Garuda tersebut tercatat sebagai salah satu yang terdalam di kawasan Asia pada awal pekan ini.
Investor kini menanti kepastian langkah strategis dari manajemen AMMN terkait rencana ekspansi di pasar internasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.






















