Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatatkan kinerja keuangan impresif sepanjang enam bulan pertama tahun 2026 dengan perolehan laba bersih konsolidasi mencapai Rp 2,4 triliun.
Capaian tersebut mencerminkan pertumbuhan signifikan sebesar 40,8% secara tahunan (year-on-year) dibandingkan dengan laba periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka Rp 1,7 triliun.
Lonjakan laba ini didorong oleh ekspansi penyaluran kredit dan pembiayaan yang mencapai total Rp 418,11 triliun hingga akhir Juni 2026.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 11,2% dibandingkan realisasi kredit pada periode serupa tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp 376,11 triliun.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menegaskan bahwa perseroan tetap berada di jalur yang tepat untuk mempertahankan performa positif hingga akhir tahun.
“Kami optimistis hingga akhir tahun nanti, kinerja BTN tetap on track melanjutkan catatan positif di paruh pertama tahun ini,” ujar Nixon dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Kamis (16/7).
Strategi diversifikasi bisnis yang dijalankan bank pelat merah ini terbukti efektif, terutama pada segmen nonperumahan yang melonjak tajam sebesar 46,1% menjadi Rp 85,22 triliun.
Sementara itu, segmen kredit perumahan tetap tumbuh stabil sebesar 4,8% menjadi Rp 332,88 triliun dengan KPR subsidi sebagai pilar utama penyaluran.
Transformasi bisnis yang diterapkan BTN kini telah bergeser menuju fase beyond mortgage guna membangun ekosistem layanan keuangan yang lebih menyeluruh.
Langkah ini mencakup perluasan penetrasi ke sektor pendidikan, kesehatan, pemerintahan, hingga kerja sama dengan perusahaan multifinance untuk pembiayaan kendaraan.
Sejalan dengan ekspansi kredit, kualitas aset perseroan juga mencatatkan perbaikan signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) berhasil ditekan turun menjadi 2,99% dari posisi sebelumnya di angka 3,3%.
Indikator risiko lain seperti loan at risk (LAR) juga menunjukkan perbaikan ke level 18,6%, sementara cost of credit (CoC) terpangkas drastis menjadi 0,7%.
Peningkatan efisiensi ini didukung oleh total aset konsolidasi yang kini menyentuh Rp 545,16 triliun atau tumbuh 12,4% secara tahunan.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 6,6% menjadi Rp 433 triliun dengan fokus penguatan dana murah atau current account saving account (CASA).
Langkah strategis lainnya adalah penyelesaian tahap pertama akuisisi portofolio kredit pensiun dari PT Bank SMBC Indonesia Tbk senilai Rp 12,6 triliun.
Tahap kedua akuisisi tersebut direncanakan akan berlanjut pada kuartal III 2026 dengan nilai tambahan sekitar Rp 7,34 triliun.
Melalui aksi korporasi anorganik ini, BTN menargetkan porsi kredit nonperumahan dapat mencapai 30% dari total portofolio dalam lima tahun mendatang.
Pihak manajemen meyakini langkah ini dapat memperkuat posisi BTN sebagai pemimpin pembiayaan perumahan sekaligus penyedia layanan keuangan terintegrasi bagi masyarakat Indonesia.
























