Jakarta – Nilai tukar mata uang rupiah kembali tertekan di hadapan dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (23/7/2026).
Pelemahan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini telah menembus ambang batas psikologis di atas US$ 90 per barel.
Data perdagangan Bloomberg mencatat mata uang Garuda ditutup di level Rp 17.936 per dolar AS.
Posisi tersebut menunjukkan depresiasi sebesar 0,11 persen dibandingkan penutupan perdagangan pada hari sebelumnya yang berada di angka Rp 17.917 per dolar AS.
Tren pelemahan serupa juga tercermin dalam kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) milik Bank Indonesia.
Kurs Jisdor mencatat rupiah berada di level Rp 17.915 per dolar AS pada penutupan hari ini.
Kondisi ini menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi di pasar keuangan domestik akibat sentimen eksternal yang kuat.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa kenaikan harga komoditas energi menjadi beban utama bagi stabilitas nilai tukar nasional.
“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS oleh kembali naiknya harga minyak mentah dunia yang telah melewati US$ 90 per barel,” ujar Lukman, Kamis (23/7/2026).
Berdasarkan data Trading Economics per pukul 16.15 WIB, harga minyak mentah jenis Brent tercatat berada di level US$ 98,4 per barel.
Angka tersebut merefleksikan penguatan signifikan sebesar 61,7 persen secara tahun berjalan (year-to-date).
Lukman menambahkan bahwa pasar saat ini cenderung minim sentimen dari rilis data ekonomi domestik yang bersifat fundamental.
Kondisi ini membuat para pelaku pasar mengalihkan perhatian sepenuhnya pada dinamika geopolitik global.
Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah menjadi variabel yang paling diperhatikan karena dampaknya secara langsung terhadap pasokan dan harga minyak global.
Meskipun indikator ekonomi domestik dalam negeri dinilai telah menunjukkan perbaikan, tekanan dari harga energi tetap menjadi kendala utama.
Risiko pelemahan lanjutan bagi mata uang rupiah masih terbuka lebar selama harga minyak dunia belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Untuk perdagangan esok hari, Jumat (24/7/2026), Lukman memproyeksikan pergerakan rupiah akan berada dalam rentang yang cukup lebar.
Nilai tukar diprediksi akan bergerak di kisaran Rp 17.850 hingga Rp 18.000 per dolar AS.
Pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap potensi ketidakpastian yang muncul dari pasar komoditas global.
Stabilitas rupiah ke depan sangat bergantung pada bagaimana pasar merespons fluktuasi harga minyak yang dipengaruhi oleh kebijakan produsen minyak dunia serta situasi keamanan internasional.
Hingga penutupan sesi sore ini, belum ada intervensi kebijakan baru yang signifikan yang mampu meredam tekanan dolar terhadap rupiah.




















