Rupiah Melemah ke Rp 17.936, Harga Minyak Dunia Jadi Beban

Kholida Rahman

Rupiah Melemah ke Rp 17.936, Harga Minyak Dunia Jadi Beban

Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan kinerja negatif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis, 23 Juli 2026.

Mata uang Garuda harus tertekan ke level Rp 17.936 per dolar AS, terkoreksi 0,11% dari level penutupan sebelumnya di posisi Rp 17.917 per dolar AS.

Data Bloomberg menunjukkan pelemahan ini mencerminkan sentimen negatif yang cukup kuat di pasar keuangan domestik sepanjang hari ini.

Situasi serupa juga terpantau pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI).

Rupiah tercatat melemah ke level Rp 17.915 per dolar AS dibandingkan posisi pada hari perdagangan sebelumnya.

Faktor utama yang memicu pelemahan ini adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang kembali menembus level psikologis US$ 90 per barel.

Berdasarkan data Trading Economics per pukul 16.15 WIB, harga minyak mentah Brent bertengger di level US$ 98,4 per barel.

Angka tersebut mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 61,7% secara year to date (YtD).

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa kenaikan harga komoditas energi ini menjadi beban berat bagi mata uang domestik.

“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS oleh kembali naiknya harga minyak mentah dunia yang telah melewati US$ 90 per barel,” ujarnya sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (23/7/2026).

Menurut Lukman, ketergantungan Indonesia pada impor minyak untuk kebutuhan energi dalam negeri memperburuk kondisi ini.

Kenaikan harga komoditas energi global secara otomatis meningkatkan permintaan terhadap dolar AS untuk pembayaran nilai impor tersebut.

Peningkatan kebutuhan cadangan devisa untuk pembiayaan impor ini secara langsung memberikan tekanan jual terhadap rupiah di pasar spot.

Di sisi lain, pasar saat ini tengah kekurangan katalis positif dari agenda rilis data ekonomi domestik yang penting.

Kondisi tersebut membuat para pelaku pasar lebih memfokuskan perhatian pada perkembangan situasi geopolitik global.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah dinilai menjadi faktor dominan yang terus menggerakkan harga minyak dunia.

Lukman menambahkan bahwa dinamika geopolitik ini akan tetap menjadi penentu utama arah pasar dalam jangka pendek.

Meskipun fundamental ekonomi domestik sebenarnya mulai memperlihatkan tanda-tanda perbaikan, sentimen eksternal masih terlalu dominan.

Untuk perdagangan Jumat (24/7/2026), pergerakan rupiah diprediksi masih akan dibayangi oleh tren kenaikan harga minyak global.

Jika harga minyak terus melambung, potensi pelemahan rupiah diperkirakan akan berlanjut hingga akhir pekan.

Proyeksi rentang pergerakan rupiah pada perdagangan besok berada di kisaran Rp 17.850 hingga Rp 18.000 per dolar AS.

Investor kini bersikap lebih waspada sembari memantau perkembangan harga komoditas energi sebagai indikator utama pergerakan mata uang.

Kenaikan harga minyak dunia yang masif sepanjang tahun ini telah menjadi tantangan berat bagi stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar