Jakarta – Pasar modal Indonesia masih menghadapi tekanan arus modal keluar yang signifikan hingga Rabu (29/7).
Investor asing tercatat terus melakukan aksi jual bersih atau net sell pada berbagai saham unggulan di Bursa Efek Indonesia.
Data mencatat akumulasi jual bersih investor asing sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan Selasa (28/7) telah mencapai angka Rp 80 triliun.
Pada perdagangan Selasa saja, pelaku pasar asing melepas kepemilikan saham mereka dengan nilai total mencapai Rp 1,1 triliun.
Fenomena ini dipicu oleh kebijakan moneter ketat atau hawkish yang masih diterapkan oleh sejumlah bank sentral di negara maju.
Kebijakan hawkish sendiri merujuk pada sikap bank sentral yang mempertahankan suku bunga tinggi demi menekan laju inflasi.
Kondisi tersebut secara langsung mengurangi minat investor terhadap aset berisiko karena biaya pinjaman yang meningkat dan likuiditas global yang mengetat.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menilai tekanan arus keluar modal berpotensi mereda di masa mendatang.
Hal itu bisa terjadi jika pasar mendapatkan sinyal pasti mengenai berakhirnya siklus kebijakan moneter ketat secara global.
“Tekanan capital outflow berpotensi mulai mereda apabila pasar memperoleh kepastian bahwa siklus kebijakan moneter ketat global benar-benar telah berakhir,” ujar Nafan, Selasa (28/7).
Ia menambahkan, peralihan kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, menuju arah yang lebih akomodatif akan menjadi kunci krusial.
Perubahan kebijakan tersebut akan memperlebar selisih imbal hasil antara negara maju dan negara berkembang, sehingga menarik minat investor kembali.
Meski demikian, Nafan menegaskan bahwa faktor domestik memegang peranan yang tidak kalah penting bagi stabilitas pasar modal Indonesia.
Investor asing disebutnya terus mencermati berbagai indikator fundamental ekonomi dalam negeri secara mendalam.
“Saya melihat faktor domestik juga sama pentingnya,” kata Nafan.
Menurutnya, stabilitas nilai tukar rupiah dan prospek pertumbuhan ekonomi menjadi perhatian utama para pelaku pasar internasional.
Selain itu, konsistensi kebijakan pemerintah serta perkembangan reformasi di pasar modal turut menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi.
Oleh karena itu, berakhirnya fase hawkish tidak serta-merta menghentikan arus keluar modal jika faktor domestik belum sepenuhnya mendukung.
Volatilitas arus dana asing diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek seiring dengan ketidakpastian global yang masih tinggi.
Pelaku pasar saat ini tengah menantikan keputusan moneter Federal Reserve terkait kebijakan suku bunga terbaru.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, sepuluh saham yang paling banyak dilepas investor asing pada Selasa (28/7) meliputi sektor perbankan hingga energi.
Deretan saham tersebut antara lain PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 150 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp 135,6 miliar.
Selanjutnya terdapat PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan nilai jual asing Rp 50,9 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar Rp 48,4 miliar.
Daftar tersebut dilengkapi oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp 47,9 miliar, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp 44 miliar, serta PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Rp 32,2 miliar.
Tiga saham terakhir dalam daftar jual bersih asing adalah PT Indika Energy Tbk (INDY) Rp 31,8 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 30,6 miliar, dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) Rp 30,3 miliar.




















