Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi menetapkan perombakan komposisi saham dalam indeks utama untuk periode Semester II-2026 yang akan mulai berlaku efektif pada 3 Agustus 2026.
Perubahan ini mencakup penyesuaian pada indeks IDX80, LQ45, serta IDX30 guna memastikan representasi saham yang lebih likuid dan relevan dengan kondisi pasar terkini.
Pada indeks IDX80, emiten BFIN, LSIP, dan NCKL tercatat masuk menggantikan posisi INTP, PANI, dan SIDO.
Sementara itu, indeks LQ45 melakukan pergantian dengan memasukkan saham INDY dan NCKL untuk menggantikan SMGR serta TOWR.
Khusus untuk indeks IDX30, terdapat satu perubahan signifikan dengan masuknya saham DEWA yang menggantikan PTBA.
Langkah rebalancing ini dilakukan di tengah tantangan pasar yang cukup berat bagi indeks utama sepanjang tahun ini.
Hingga Selasa (28/7/2026), kinerja IDX80 terpantau melemah 31,75% secara year to date (YtD).
Indeks LQ45 juga mencatatkan koreksi sebesar 28,64% YtD, sementara IDX30 turun 22,04% YtD.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menegaskan bahwa perubahan komposisi ini lebih bersifat teknikal dibandingkan faktor penentu arah pasar.
“Rebalancing menurut saya lebih bersifat technical adjustment daripada pengubah arah tren pasar,” ujarnya dikutip dari Kontan, Selasa (28/7/2026).
Ia menambahkan bahwa pemulihan indeks di sisa tahun 2026 akan sangat bergantung pada arus dana asing, stabilitas makro, serta kinerja laba emiten.
Senada dengan hal tersebut, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyatakan bahwa perubahan komposisi tidak serta-merta menjamin pembalikan tren pelemahan.
“Rebalancing dapat memperbaiki representasi saham yang lebih likuid dan memiliki momentum lebih kuat, tetapi tidak otomatis membalikkan penurunan tajam secara YtD,” jelasnya.
Menurut Liza, faktor eksternal seperti pergerakan nilai tukar rupiah, sentimen global, dan prospek laba tetap menjadi penentu utama kinerja indeks ke depan.
Terkait pendatang baru, NCKL dinilai memiliki daya tarik paling menonjol dari sisi fundamental dan prospek pertumbuhan.
Brigita menyoroti bahwa BFIN dan LSIP menawarkan karakter defensif yang menarik, sementara INDY memiliki cerita diversifikasi yang cukup positif.
Mengenai potensi aliran dana, Liza menambahkan bahwa saham-saham baru berpotensi menerima dorongan teknikal dari passive funds dan reksadana indeks.
“NCKL berpeluang memperoleh dampak terbesar karena masuk ke IDX80 dan LQ45 sekaligus, tetapi besarnya inflow tetap bergantung pada bobot saham dan dana kelolaan,” ungkapnya.
Meski demikian, para analis sepakat bahwa efek dari rebalancing ini cenderung bersifat temporer bagi pergerakan harga saham.
Investor diimbau untuk tidak sekadar melakukan pembelian berdasarkan efek masuknya saham ke dalam indeks.
Strategi yang disarankan adalah tetap fokus pada fundamental perusahaan serta memanfaatkan momentum rebalancing untuk akumulasi bertahap.
Selain itu, investor diminta mewaspadai potensi aksi ambil untung atau sell on news yang kerap terjadi tepat setelah tanggal efektif pemberlakuan indeks baru.
Pada penutupan perdagangan Selasa (28/7/2026), pergerakan saham pendatang baru bervariasi.
Saham BFIN menguat 8,33% ke Rp845, LSIP naik 1,47% ke Rp1.385, NCKL menguat 0,60% ke Rp845, serta DEWA naik 0,45% ke Rp444, sementara INDY melemah 0,76% ke Rp2.610.























