Harga Minyak Brent Turun ke US$ 78 per Barel

Rayhan Akhari

Harga Minyak Brent Turun ke US$ 78 per Barel

Singapura – Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penurunan pada perdagangan Rabu (5/8/2026) seiring dengan menguatnya optimisme pasar terhadap potensi pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Sentimen positif ini muncul setelah adanya sinyal kemajuan dalam proses negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang diharapkan dapat melancarkan kembali pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.

Data pasar menunjukkan harga minyak Brent terkoreksi sebesar 0,6 persen ke level US$ 78,92 per barel pada pukul 08.12 waktu Singapura.

Penurunan serupa juga dialami oleh minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) yang melemah 0,7 persen ke posisi US$ 75,24 per barel.

Secara akumulatif, harga komoditas energi ini telah mengalami tren penurunan selama dua pekan terakhir.

Tren bearish ini dipicu oleh keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memilih menunda rencana serangan baru terhadap Iran guna memberikan ruang bagi proses perundingan.

Meski demikian, para analis pasar energi memperingatkan bahwa kesepakatan jangka pendek untuk menormalkan pelayaran di Selat Hormuz tidak serta merta menyelesaikan akar konflik.

Direktur Divisi Energy Futures di Mizuho Securities USA LLC, Robert Yawger, menilai bahwa potensi kesepakatan yang akan tercapai kemungkinan besar bersifat pragmatis namun belum menjawab persoalan fundamental.

“Kendati demikian, saya masih memperkirakan pada akhirnya akan tercapai kesepakatan kurang ideal, yang memungkinkan AS mengklaim semacam kemenangan. Tetapi tetap menyisakan banyak persoalan yang belum terselesaikan, termasuk terkait kesepakatan nuklir,” ujar Yawger sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Rabu (5/8/2026).

Ketegangan geopolitik sebelumnya telah menyebabkan volatilitas harga yang ekstrem, di mana harga Brent sempat melonjak hingga US$ 32 per barel sepanjang bulan lalu.

Pemerintah Qatar kini dilaporkan telah menyusun proposal sementara untuk memfasilitasi perdamaian.

Upaya diplomatik juga melibatkan komunikasi intensif antara Presiden Trump dengan Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani, melalui sambungan telepon.

Pihak Gedung Putih mengonfirmasi adanya pembicaraan tersebut, meski menolak memberikan rincian lebih lanjut mengenai poin-poin kesepakatan yang dibahas.

Di sisi lain, Iran dikabarkan tengah mempertimbangkan izin bagi negara-negara Eropa untuk melakukan pembersihan ranjau di Selat Hormuz sebagai gestur niat baik.

Kementerian Luar Negeri Iran juga mengonfirmasi adanya diskusi positif dengan Oman yang berfokus pada pembentukan jalur pelayaran yang aman bagi kapal-kapal tanker komersial.

Upaya mitigasi konflik juga dilakukan oleh Arab Saudi yang tengah menginisiasi pembicaraan dengan kelompok Houthi di Yaman melalui mediasi Oman.

Namun, di balik upaya diplomasi tersebut, Arab Saudi tetap mempertahankan kesiapan opsi militer sebagai langkah antisipasi jika negosiasi menemui jalan buntu.

Dari sisi fundamental pasokan, data menunjukkan adanya peningkatan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat sebesar 2,7 juta barel pada pekan lalu.

Stok minyak di pusat pengiriman WTI di Cushing, Oklahoma, juga mencatat penambahan sebesar 2,4 juta barel.

Apabila data tersebut terkonfirmasi secara resmi, kenaikan stok ini akan menjadi yang terbesar sejak Maret dan mendorong persediaan melampaui ambang batas operasional 20 juta barel.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar