Jakarta – Kinerja keuangan lima emiten di bawah naungan Grup Bakrie menunjukkan hasil yang bervariasi sepanjang semester pertama 2026. Data resmi menunjukkan adanya disparitas performa, mulai dari lonjakan laba yang signifikan hingga pembengkakan kerugian pada sejumlah lini bisnis yang dikendalikan oleh grup tersebut.
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan kinerja paling menonjol di sektor pertambangan batu bara. Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 72,3 juta atau melonjak 87,4% secara tahunan (YoY).
Peningkatan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk bahkan mencapai 188,4%, dengan nilai US$ 58,9 juta dibandingkan posisi tahun lalu sebesar US$ 20,4 juta.
Pihak manajemen menyebutkan bahwa pencapaian tersebut didorong oleh efisiensi penambangan dan peningkatan volume penjualan yang mencapai 38,8 juta ton.
“Pertumbuhan volume produksi dan penjualan, perbaikan harga jual serta peningkatan efisiensi penambangan menjadi faktor utama yang mendorong ekspansi marjin,” ujar keterangan resmi perusahaan, Rabu (5/8/2026).
Berbanding terbalik dengan BUMI, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) justru mengalami tekanan pada profitabilitas. Penjualan perseroan turun 20,7% menjadi US$ 95,79 juta, yang berimbas pada merosotnya laba bersih sebesar 41,3% menjadi US$ 13,28 juta.
Di sektor kendaraan listrik, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mencatat kenaikan penjualan neto sebesar 56,17% menjadi Rp 646,62 miliar. Meskipun laba neto naik 25% menjadi Rp 10,08 miliar, porsi laba yang masuk ke kantong pemegang saham induk tergolong kecil.
Sebanyak 88,79% dari total laba bersih VKTR justru dialokasikan kepada pihak nonpengendali. Hal ini terjadi karena struktur kepemilikan saham di anak usaha, seperti PT VKTR Sakti Industries (VSI), belum sepenuhnya dikuasai oleh perusahaan induk.
Sementara itu, tantangan berat masih membayangi PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP). Meskipun pendapatan tumbuh 12,13% menjadi Rp 1,28 triliun, perseroan berbalik merugi sebesar Rp 264,77 miliar.
Kerugian tersebut dipicu oleh lonjakan rugi selisih kurs yang mencapai Rp 297,96 miliar. Angka ini melonjak hampir sembilan kali lipat jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kondisi serupa dialami oleh PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) yang masih terjebak dalam zona rugi. Kerugian bersih perseroan membengkak menjadi Rp 27,64 miliar dari sebelumnya Rp 24,57 miliar.
Peningkatan beban operasional dan keuangan menjadi faktor utama yang menekan kinerja ELTY, meski pendapatan neto tercatat tumbuh tipis 4,1% menjadi Rp 731,07 miliar.
Grup Bakrie, yang kini dipimpin oleh Anindya Novyan Bakrie, terus melakukan diversifikasi bisnis ke sektor-sektor baru seperti kendaraan listrik dan pusat data. Dari total 12 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, baru lima entitas yang telah mempublikasikan laporan keuangan semester pertama tahun 2026.






















