Jakarta – Bursa saham di kawasan Asia mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Rabu (5/8/2026).
Tren positif ini dipicu oleh optimisme investor terhadap sektor teknologi yang didorong oleh laporan keuangan solid dari sejumlah emiten raksasa.
Sentimen tersebut sebelumnya berhasil membawa indeks utama Wall Street menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa.
Dikutip dari Reuters, indeks Nikkei di Jepang terpantau melonjak sebesar 3%.
Kondisi serupa terjadi di Korea Selatan, di mana indeks Kospi mencatatkan kenaikan sebesar 3,4%.
Adapun indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turut menguat sebesar 1,5% di tengah dinamika pasar yang volatil.
Namun, laju penguatan saham teknologi tidak sepenuhnya seragam di seluruh pasar global.
Saham Advanced Micro Devices (AMD) justru mengalami koreksi tajam sekitar 9% pada sesi perdagangan setelah jam kerja.
Penurunan tersebut terjadi meskipun perusahaan mampu melaporkan kinerja kuartalan yang melampaui ekspektasi para analis.
Aksi ambil untung oleh investor menjadi pemicu utama penurunan harga saham AMD setelah mengalami reli panjang sepanjang tahun ini.
Tekanan serupa juga dialami oleh saham SpaceX yang mencatatkan pelemahan sebesar 7,5%.
Pelaku pasar memberikan respons negatif terhadap besarnya belanja modal atau capital expenditure yang dialokasikan untuk infrastruktur kecerdasan buatan.
Kepala Riset Pepperstone, Chris Weston, menilai bahwa meskipun eksekusi operasional SpaceX tetap kuat, strategi investasi yang agresif akan menekan arus kas.
“Bagaimana manajemen mendanai pertumbuhan tersebut dan berapa biayanya akan tetap menjadi perhatian utama investor dalam beberapa kuartal ke depan,” ujar Chris Weston dikutip dari Reuters.
Di sisi lain, pasar energi global menunjukkan tren penurunan harga minyak mentah.
Harga minyak Brent tercatat turun 0,4% ke level US$ 79,02 per barel pada hari ini.
Penurunan ini terjadi seiring adanya perkembangan positif dalam negosiasi pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz melalui mediasi Qatar.
Kondisi ini secara langsung meredam kekhawatiran inflasi dan memberikan dampak positif pada pasar obligasi global.
Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat bertenor 10 tahun kini berada di posisi 4,6187%.
Angka tersebut menunjukkan penurunan cukup signifikan jika dibandingkan dengan level tertinggi pekan lalu yang sempat mencapai 4,747%.
Sementara itu, pasar valuta asing menunjukkan fluktuasi terbatas pada sejumlah mata uang utama dunia.
Dolar Selandia Baru melemah 0,2% setelah data resmi menunjukkan tingkat pengangguran melonjak ke level 5,6% pada kuartal II-2026.
Di sisi lain, dolar AS terpantau melemah tipis terhadap yen Jepang ke level 157,53 yen.
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan keyakinannya bahwa Bank of Japan akan mengambil langkah strategis yang tepat bagi perekonomian negara tersebut.
Pernyataan tersebut diartikan pasar sebagai bentuk dukungan terhadap potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut di Jepang.





















