Jakarta – Bursa Efek Indonesia mencatatkan tren penguatan masif pada saham-saham yang tergabung dalam indeks LQ45 sepanjang perdagangan Selasa, 4 Agustus 2026.
Sentimen positif ini menyelimuti pasar tepat satu hari setelah dua emiten baru resmi melantai dalam indeks tersebut dengan pergerakan harga yang kontras.
Data perdagangan menunjukkan total nilai transaksi harian mencapai Rp13,0 triliun.
Meski investor asing mencatatkan volume penjualan bersih sebanyak 424,2 juta saham, mereka justru melakukan pembelian bersih dari sisi nilai sebesar Rp623,5 miliar.
Kinerja positif terpantau merata pada jajaran saham dengan rasio harga berbanding laba (Price Earning Ratio/PER) terendah.
Seluruh sepuluh saham dalam kategori valuasi PER rendah tersebut kompak ditutup di zona hijau tanpa ada satu pun yang terkoreksi.
PT Bank Negara Indonesia (BBNI) memimpin kenaikan dengan apresiasi harga sebesar 3,98 persen.
Pencapaian tersebut diikuti oleh PT Hartadinata Abadi (HRTA) yang mencatatkan kenaikan 3,54 persen.
Saham PT Trimegah Bangun Persada (NCKL) juga menunjukkan performa impresif dengan kenaikan 2,14 persen, sekaligus mempertahankan momentum penguatan sejak hari pertama masuk ke dalam indeks LQ45.
Dinamika menarik terjadi pada kelompok saham dengan valuasi PER yang lebih tinggi, di mana PT Indika Energy (INDY) berhasil melesat hingga 7,69 persen.
Kenaikan signifikan ini menjadi pemulihan parsial bagi INDY setelah pada hari sebelumnya, saat debutnya di indeks LQ45, saham tersebut sempat anjlok tajam sebesar 11,03 persen.
Selain INDY, saham sektor komoditas lainnya seperti PT Merdeka Copper Gold (MDKA) turut menguat 6,99 persen, dan PT Merdeka Battery Materials (MBMA) mencatatkan kenaikan 5,83 persen.
Di sisi lain, pergerakan pasar tidak sepenuhnya seragam karena PT Darma Henwa (DEWA) tercatat sebagai satu-satunya emiten yang melemah di kelompok ini dengan koreksi 0,43 persen.
Sementara itu, beberapa saham terpantau stagnan atau tidak mengalami perubahan harga, di antaranya PT GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) yang bertahan di level Rp50, serta PT Amman Mineral Internasional (AMMN) dan PT Bumi Resources (BUMI).
Perubahan komposisi indeks LQ45 pasca keluarnya PT Semen Indonesia memberikan dampak pada pemetaan valuasi saham.
PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) kini menyandang status sebagai emiten dengan rasio harga berbanding nilai buku (Price to Book Value/PBV) terendah di antara 20 saham yang dipantau, yakni berada di angka 0,36 kali.
Analisis valuasi ini didasarkan pada data yang dihimpun oleh Pusat Data Kontan, Rabu (5/8/2026).
Secara teknis, investor menggunakan rasio PER untuk mengukur seberapa besar harga saham dibandingkan dengan laba bersih per lembar saham yang dihasilkan perusahaan.
Di samping itu, rasio PBV menjadi instrumen krusial bagi pelaku pasar untuk membandingkan harga pasar saham dengan nilai aset bersih perusahaan per lembar sahamnya.























