Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mempertahankan tren positifnya dengan mencatatkan penguatan pada penutupan perdagangan Rabu (5/8/2026).
Indeks ditutup naik sebesar 0,49 persen ke level 6.351,13.
Pergerakan indeks sepanjang sesi perdagangan berada di zona hijau dengan rentang level 6.316 hingga 6.367.
Kenaikan IHSG ini didorong oleh aksi beli yang mendominasi pasar, dengan sebanyak 406 saham mengalami penguatan.
Sementara itu, terdapat 208 saham yang tertekan ke zona merah dan 178 saham lainnya berakhir stagnan.
Total volume perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat mencapai 40,35 miliar saham.
Nilai transaksi harian yang dibukukan selama sesi tersebut mencapai Rp 14,92 triliun.
Meski indeks utama mencatatkan apresiasi, kondisi pasar masih dibayangi oleh aksi lepas saham yang dilakukan oleh investor asing.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI Business menunjukkan bahwa pelaku pasar asing masih mencatatkan penjualan bersih atau net sell.
Total nilai net sell investor asing di seluruh pasar pada perdagangan Rabu mencapai Rp 182,77 miliar.
Aksi divestasi asing ini menyasar sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar atau big caps yang selama ini menjadi penggerak indeks.
Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memuncaki daftar net sell asing dengan nilai mencapai Rp 157,93 miliar.
Posisi kedua ditempati oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan nilai jual bersih sebesar Rp 138,01 miliar.
Selanjutnya, investor asing juga melepas saham PT Astra International Tbk (ASII) senilai Rp 84,95 miliar.
Saham perbankan pelat merah, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), turut menjadi sasaran aksi jual dengan nilai Rp 84,41 miliar.
Berikutnya, saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) mencatatkan net sell asing sebesar Rp 44,89 miliar.
Investor asing juga tercatat melepas saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) senilai Rp 42,02 miliar.
Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) menyusul dengan nilai penjualan bersih mencapai Rp 40,09 miliar.
Tekanan jual juga terjadi pada saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan nilai Rp 39,44 miliar.
Dua emiten perbankan besar lainnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), masing-masing mencatatkan net sell asing sebesar Rp 34,53 miliar dan Rp 22,24 miliar.
Data ini menunjukkan adanya divergensi antara pergerakan indeks yang menguat dengan perilaku investor asing yang masih cenderung melakukan realisasi keuntungan atau penyesuaian portofolio.
Kondisi pasar modal domestik saat ini tetap menunjukkan ketahanan di tengah arus modal keluar dari investor asing tersebut.
Para pelaku pasar akan terus memantau dinamika perdagangan selanjutnya untuk melihat apakah tren penguatan indeks dapat bertahan dalam jangka menengah.























