Bursa Saham AS Cetak Rekor Berkat Optimisme di Selat Hormuz

Rayhan Akhari

Bursa Saham AS Cetak Rekor Berkat Optimisme di Selat Hormuz

Jakarta – Bursa saham Amerika Serikat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa (4/8/2026), didorong oleh sentimen positif dari kinerja laba perusahaan yang solid dan potensi normalisasi jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Indeks S&P 500 melonjak 136 poin atau 1,8 persen hingga menyentuh level 7.736.

Pencapaian ini menandai momen pertama kalinya indeks acuan tersebut menembus level 7.700, melampaui rekor sebelumnya di 7.620,90 yang tercatat pada 2 Juni 2026.

Indeks Dow Jones Industrial Average turut mencetak rekor baru selama dua sesi perdagangan berturut-turut setelah naik 907 poin atau 1,7 persen ke level 54.085,88.

Penguatan juga terjadi pada indeks Nasdaq Composite yang menguat 2,6 persen.

Secara akumulatif sepanjang tahun berjalan, Dow Jones telah tumbuh 12 persen, S&P 500 naik 13 persen, dan Nasdaq mencatatkan kenaikan 14 persen.

Optimisme pasar di Amerika Serikat merembet ke bursa regional Asia pada Rabu (5/8/2026).

Indeks Nikkei 225 Jepang melesat 3,7 persen, Kospi Korea Selatan naik 3,8 persen, dan Hang Seng Hong Kong menguat 0,3 persen.

Laporan laba kuartal kedua yang melampaui ekspektasi menjadi katalis utama penguatan bursa global.

Caterpillar mencatatkan performa keuangan yang impresif dengan penjualan kuartalan menembus angka 20 miliar dolar AS, memicu lonjakan harga saham sebesar 6,5 persen.

Direktur Utama Caterpillar, Joe Creed, menyatakan bahwa perusahaan membukukan pesanan yang kuat sekaligus pertumbuhan backlog di seluruh lini bisnis utama.

Sementara itu, Palantir Technologies mencatatkan kenaikan saham lebih dari 29 persen setelah membukukan pendapatan kuartal II sebesar 1,94 miliar dolar AS.

Direktur Utama Palantir, Alex Karp, menyebut pertumbuhan pendapatan sebesar 93 persen sebagai periode luar biasa sekaligus menaikkan proyeksi pendapatan penuh sepanjang 2026.

Data FactSet menunjukkan perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 diperkirakan membukukan pertumbuhan laba per saham mendekati 50 persen pada kuartal musim semi dibandingkan tahun sebelumnya.

Manajer Portofolio Bersama Leuthold Group, Phil Segner, menilai pergerakan harga saham kini semakin sejalan dengan realisasi laba perusahaan.

Di sisi lain, harga minyak mentah Brent sempat mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 4,9 persen ke level 79,64 dolar AS per barel akibat prospek pembukaan kembali Selat Hormuz.

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, mengungkapkan optimisme tinggi terhadap peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.

“Saya pikir ada peluang kita mungkin memiliki kesepakatan hari ini atau besok untuk membuka Selat dan bergerak menuju posisi yang lebih ternormalisasi dalam konflik ini,” ujar Bessent, dikutip CBS News.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio menambahkan bahwa meskipun kesepakatan resmi belum ditandatangani, pemerintah berharap proses pemulihan jalur pelayaran dapat segera terwujud.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menilai pembahasan bersama pejabat Oman mengenai penyediaan jalur aman bagi kapal komersial menunjukkan sinyal positif.

Data MarineTraffic mencatat aktivitas di Selat Hormuz masih terbatas dengan hanya sembilan kapal melintasi jalur tersebut pada Minggu (2/8/2026), jauh di bawah rata-rata normal sebanyak 130 pelayaran per hari.Bursa Saham AS Cetak Rekor Berkat Optimisme di Selat Hormuz

Rekomendasi

Tinggalkan komentar