Jakarta – Pasar modal Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan seiring dengan rilis laporan keuangan emiten untuk semester I-2026.
Hasil kinerja perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa domestik kini menunjukkan perbaikan kualitas dibandingkan periode sulit sepanjang 2024 hingga 2025.
Analis CGS International Sekuritas, Hadi Soegiarto, mencatat bahwa hanya tujuh dari 40 emiten dalam cakupan riset mereka yang mencatatkan kinerja di bawah ekspektasi pasar.
Proporsi tersebut setara dengan 18% dari total emiten yang dipantau, menjadikannya angka terendah dalam tiga tahun terakhir.
“Sebanyak 18% merupakan proporsi terendah sepanjang periode 2023-2026, setelah sebelumnya level terendah berada di 20% pada kuartal I-2023,” kata Hadi melalui laporan riset yang dirilis pada 3 Agustus 2026.
Menurut Hadi, minimnya jumlah emiten yang meleset dari target dipengaruhi oleh ekspektasi laba investor yang sebelumnya sudah berada di level cukup rendah.
Secara keseluruhan, perolehan laba bersih selama semester I-2026 dinilai sejalan dengan konsensus Bloomberg dan menunjukkan performa lebih baik dibandingkan kuartal I-2026.
Dari sisi fundamental, pertumbuhan laba bersih inti emiten yang dipantau CGS International Sekuritas melonjak tajam dari 3% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2026 menjadi 26% (yoy) pada kuartal II-2026.
Lonjakan ini didorong oleh sektor pertanian serta minyak dan gas, yang turut terbantu oleh basis perbandingan yang rendah pada periode yang sama tahun lalu.
Sektor teknologi, termasuk e-commerce, serta sektor ritel yang didukung oleh MAPA berhasil mencatatkan hasil yang melampaui ekspektasi pasar.
Sebaliknya, sektor rumah sakit menjadi kelompok yang mencatat kinerja mengecewakan akibat penurunan permintaan layanan kesehatan.
Sektor lain seperti perbankan, telekomunikasi, barang konsumsi, farmasi, dan properti dilaporkan mencatat kinerja yang sesuai dengan perkiraan.
Di sektor perbankan, pertumbuhan laba bersih meningkat menjadi 14% (yoy) pada kuartal II-2026 dari sebelumnya 11% pada kuartal I-2026.
Sementara itu, sektor barang konsumsi mencatatkan kenaikan pertumbuhan laba dari 10% menjadi 25% (yoy), meski penjualan pasca-Lebaran pada beberapa segmen produk susu sempat melambat.
Produsen rokok juga mendapatkan sentimen positif berkat kenaikan harga jual rata-rata dan kebijakan cukai yang dianggap lebih kondusif.
Menanggapi dinamika tersebut, CGS International Sekuritas melakukan penyesuaian pada daftar saham unggulan (top picks).
Saham MYOR, BMRI, dan KLBF dikeluarkan dari daftar dan digantikan oleh BFIN, UNVR, serta JPFA yang dinilai memiliki momentum pertumbuhan laba jangka pendek lebih kuat.
“Kami mengeluarkan MYOR -4% sejak saham ini dimasukkan pada 23 Juli 2026, BMRI -2%, dan KLBF +3% sejak keduanya dimasukkan pada 10 Juni 2026 dari daftar saham pilihan utama kami, serta memasukkan saham-saham yang menurut kami memiliki momentum pertumbuhan laba jangka pendek yang lebih baik,” jelas Hadi.
Kini, daftar saham pilihan utama mencakup BBCA, BBNI, ASII, UNVR, EXCL, TINS, JPFA, MAPA, BFIN, dan WIIM.
Pasar kini menantikan sejumlah agenda krusial pada Agustus, seperti pembaruan status Indonesia dalam indeks FTSE, pengumuman rancangan APBN 2027, serta potensi penunjukan Gubernur Bank Indonesia yang baru.
“Kami tetap berhati-hati namun optimistis, meski menyadari volatilitas pasar masih berpotensi tinggi di tengah dinamika ekonomi dan kebijakan pemerintah,” ungkap Hadi.























