Jakarta – Pasar surat utang negara (SBN) Indonesia menghadapi tantangan volatilitas yang dipicu oleh dinamika ekonomi global dan domestik sepanjang semester kedua tahun 2026.
Data dari Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) per Senin (10/8/2026) mencatat posisi imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun berada di level 7,27%.
Angka tersebut menunjukkan selisih yang signifikan dibandingkan yield US Treasury tenor 10 tahun yang bertengger di posisi 4,65%.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa kenaikan yield SBN sejak awal tahun telah mencapai 1,21 poin persentase.
Angka ini jauh melampaui kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang hanya berada di kisaran 0,48 poin persentase, ujar Josua dikutip dari laman resmi, Senin (10/8/2026).
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa tekanan pada pasar obligasi domestik tidak hanya berasal dari faktor eksternal Amerika Serikat saja.
Ada peningkatan premi risiko Indonesia yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah, kebutuhan pembiayaan fiskal, hingga kehati-hatian investor terhadap prospek transaksi berjalan.
Dalam proyeksi jangka pendek, Josua memperkirakan yield SBN 10 tahun berpotensi mencapai 7,58% pada triwulan III 2026.
Setelah mencapai titik tersebut, imbal hasil diprediksi akan melandai ke angka 7,36% pada akhir tahun 2026, tambahnya.
Di sisi lain, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memandang pergerakan yield obligasi negara akan cenderung bergerak mendatar (sideways) dengan bias penurunan bertahap.
Menurut Yusuf, ruang penurunan tetap terbuka lebar apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah mereda, yang secara langsung akan menekan harga minyak dunia dan menstabilkan rupiah.
Namun, ia mengingatkan bahwa penurunan tersebut tidak akan terjadi secara agresif karena suku bunga global masih berada di level yang relatif tinggi.
Pemerintah juga masih memiliki kebutuhan penerbitan SBN yang cukup besar untuk menutup defisit APBN, ujar Yusuf, Senin (10/8/2026).
Terkait strategi investasi, Yusuf menyarankan pelaku pasar untuk melirik SBN tenor menengah antara lima hingga tujuh tahun.
Instrumen tersebut dinilai menawarkan imbal hasil yang kompetitif dengan profil risiko durasi yang lebih terukur dibandingkan tenor panjang.
Investor juga dapat menerapkan strategi laddering agar arus kupon lebih merata dan memanfaatkan kenaikan yield jangka pendek untuk akumulasi bertahap, jelas Yusuf.
Dari sisi fundamental domestik, tekanan pasar sedikit terbantu oleh inflasi yang masih terkendali dan intervensi aktif dari Bank Indonesia.
Hingga akhir Juli 2026, Bank Indonesia tercatat telah melakukan pembelian SBN senilai Rp 195,25 triliun untuk menjaga stabilitas pasar.
Kepemilikan asing terhadap SBN yang dapat diperdagangkan saat ini hanya tersisa sekitar 12,89%, sehingga pasar lebih tahan terhadap aksi jual mendadak oleh investor global.
Josua menyarankan investor untuk tidak mengejar harga saat terjadi penguatan tajam, namun juga tidak menunggu penurunan ekstrem untuk mulai masuk ke pasar.
Strategi terbaik adalah melakukan pembelian secara bertahap saat yield mendekati level 7,5% hingga 7,6%, tutup Josua.






















