Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan aktivitas perdagangan yang dinamis pada awal pekan ini, Senin (10/8/2026), dengan total nilai transaksi mencapai Rp18,2 triliun.
Kinerja indeks LQ45 sepanjang sesi perdagangan tersebut diwarnai oleh tekanan koreksi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Meskipun terjadi pelemahan pada beberapa emiten utama, minat investor asing terhadap pasar modal domestik tetap menunjukkan tren positif.
Data bursa menunjukkan investor asing melakukan aksi beli bersih sebanyak 4,22 miliar saham.
Secara nominal, nilai beli bersih asing tersebut menyentuh angka Rp829,7 miliar.
Aktivitas ini menegaskan kelanjutan pola akumulasi yang dilakukan investor asing dari perdagangan sebelumnya.
Dalam daftar saham LQ45 dengan valuasi harga tinggi, PT Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) memimpin daftar penurunan terdalam.
Saham CPIN tercatat melemah sebesar 1,91% hingga penutupan perdagangan.
Tekanan jual juga membayangi PT Indofood Sukses Makmur (INDF) yang terkoreksi sebesar 1,68%.
Sementara itu, pergerakan variatif terlihat pada beberapa saham lain di kelompok yang sama.
Empat emiten yakni PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP), PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA), PT Bank Tabungan Negara (BBTN), dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI) berhasil mencatatkan penguatan tipis.
PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) terpantau tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Di sisi lain, pergerakan saham di luar kelompok tersebut menunjukkan volatilitas yang lebih tajam.
PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) mencatatkan koreksi paling signifikan di antara 20 saham yang diamati, yakni sebesar 4,05%.
Sentimen negatif juga menekan saham PT Barito Pacific (BRPT) yang turun 3,63% serta PT Indika Energy (INDY) yang terkoreksi 3,33%.
Berlawanan dengan tren tersebut, PT Merdeka Copper Gold (MDKA) justru tampil menonjol sebagai satu-satunya saham yang mengalami penguatan signifikan dengan kenaikan 3,40%.
PT United Tractors (UNTR) juga mampu bertahan di zona hijau dengan apresiasi harga sebesar 1,58%.
Sementara itu, PT GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) dan PT Bumi Resources (BUMI) terpantau stagnan.
Analisis valuasi menunjukkan bahwa PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) saat ini memegang status sebagai emiten dengan rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) terendah, yakni 0,36 kali.
Rasio PBV sendiri berfungsi membandingkan harga pasar saham dengan nilai aset bersih perusahaan per saham.
Selain itu, investor juga memperhatikan rasio harga terhadap laba atau price earning ratio (PER) untuk mengukur berapa kali lipat harga saham dibandingkan dengan laba bersih per sahamnya.
Seluruh data performa saham ini mengacu pada informasi yang dihimpun oleh Pusat Data Kontan.
























