Jakarta – Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menghapus batas minimum harga saham sebesar Rp 50 per lembar kini menjadi sorotan utama para analis pasar modal.
Kebijakan ini diprediksi akan mengubah dinamika perdagangan secara signifikan bagi emiten yang selama ini tertahan di level harga terendah atau sering disebut sebagai saham ‘gocap’.
Salah satu emiten yang paling terdampak oleh rencana tersebut adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Saham GOTO diketahui telah stagnan di level Rp 50 per saham dalam durasi yang cukup lama.
Kondisi tersebut dipicu oleh berbagai sentimen negatif, termasuk kebijakan pemerintah terkait pembatasan potongan komisi aplikasi yang sempat memangkas pendapatan perusahaan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji, menilai penghapusan batas harga minimum ini berpotensi menjadi sentimen positif bagi GOTO.
Menurutnya, perubahan aturan tersebut akan membuka kembali ruang price discovery yang selama ini terhambat oleh mekanisme harga minimum.
“Namun, pasar tetap perlu melihat apakah kekuatan demand mampu mengimbangi potensi tekanan jual setelah floor harga Rp 50 dihapus,” ujar Nafan, dikutip Senin (24/8).
Ia menambahkan, pergerakan harga saham GOTO nantinya akan murni ditentukan oleh mekanisme pasar berdasarkan keseimbangan penawaran dan permintaan.
Faktor pendukung seperti aksi pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp 3,5 triliun serta perbaikan kinerja operasional perusahaan dinilai akan menjadi penopang harga di masa depan.
Sementara itu, Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyoroti masalah likuiditas yang selama ini menjadi kendala utama bagi GOTO.
Masalah likuiditas tersebut bahkan sempat memicu dikeluarkannya GOTO dari daftar konstituen indeks global seperti FTSE dan MSCI.
Meski demikian, Wafi mencatat adanya perbaikan fundamental yang cukup solid pada kinerja keuangan GOTO.
Perusahaan tercatat mampu membukukan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut pada tahun 2026.
Pada kuartal II-2026, GOTO mencatatkan laba bersih sebesar Rp 252 miliar, setelah sebelumnya meraih laba bersih Rp 171 miliar pada kuartal I-2026.
Wafi memprediksi akan terjadi fenomena capitulation selling dari investor ritel yang ingin segera keluar dari posisi mereka saat aturan baru resmi diterapkan.
Sebaliknya, investor yang yakin dengan prospek pemulihan perusahaan kemungkinan besar akan melakukan strategi averaging down.
Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, menambahkan bahwa kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk memperbaiki mekanisme pembentukan harga di bursa.
Menurut Hendra, investor harus lebih jeli dalam membedakan antara saham yang memiliki prospek pemulihan dengan perusahaan yang memiliki masalah fundamental struktural.
“Investor harus memahami bahwa saham Rp 1 tidak otomatis lebih murah dibandingkan saham Rp 1.000, karena ukuran murah atau mahal harus dilihat dari fundamental dan valuasi perusahaan secara keseluruhan,” jelas Hendra.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa saat ini bursa masih terus mematangkan pembahasan rencana tersebut bersama para pelaku pasar.
Pihak bursa juga sedang melakukan asesmen terhadap kesiapan infrastruktur perdagangan milik para anggota bursa sebelum aturan teknis diterbitkan.
“Untuk memberikan akses likuiditas dan price discovery yang lebih baik, kami akan menghapus batasan harga minimum Rp 50,” ujar Jeffrey, dikutip Kamis (20/8/2026).





















