Jakarta – Pasar energi global menunjukkan stabilitas pada perdagangan Selasa (25/8/2026) setelah mengalami koreksi harga lebih dari 2% pada sesi sebelumnya.
Harga minyak mentah Brent tercatat berada di level US$ 92,16 per barel setelah turun tipis 9 sen atau 0,1% pada pukul 01.04 GMT.
Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) milik Amerika Serikat mencatatkan kenaikan tipis 1 sen ke posisi US$ 85,02 per barel.
Fluktuasi harga ini terjadi setelah kedua kontrak minyak tersebut mengalami tekanan jual yang cukup dalam pada Senin (24/8/2026).
Aksi ambil untung oleh para pelaku pasar menjadi pemicu utama penurunan harga setelah reli penguatan yang berlangsung selama dua pekan terakhir.
WTI bahkan sempat menyentuh level terendah dalam kurun waktu satu pekan terakhir akibat aksi jual tersebut.
Saat ini, fokus pelaku pasar tertuju pada kebijakan ekonomi terbaru yang diambil oleh pemerintah Amerika Serikat terhadap Iran.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada Senin mengumumkan perluasan sanksi ekonomi untuk menekan pendapatan Iran guna mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.
Pemerintah AS menegaskan bahwa negara yang masih menjalin kerja sama bisnis dengan Iran akan menghadapi risiko kehilangan akses ke sistem keuangan berbasis dolar AS.
Meskipun demikian, Washington belum merinci daftar negara yang menjadi target maupun jadwal pasti pemberlakuan sanksi tersebut.
Analis menilai langkah tersebut sebagai sinyal bahwa AS lebih memprioritaskan tekanan ekonomi dibandingkan eskalasi militer langsung.
“Pasar tampaknya menilai tekanan ekonomi sebagai risiko yang lebih rendah terhadap pasokan fisik dibandingkan aksi militer,” ujar Kepala Analis Pasar KCM, Tim Waterer, Selasa (25/8/2026).
Sentimen tersebut sempat meredakan kekhawatiran pelaku pasar akan potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah secara drastis.
Namun, premi risiko tetap melekat pada harga minyak karena potensi ancaman terhadap jalur distribusi di Selat Hormuz masih terbuka lebar.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan insiden sebuah kapal tanker minyak yang terkena proyektil tidak teridentifikasi di lepas pantai Oman.
Insiden tersebut terjadi sekitar 16,7 kilometer di timur laut Ash Shishah, yang menambah ketegangan di jalur pelayaran strategis dunia.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur krusial yang menampung sekitar 20% dari total konsumsi minyak global dalam kondisi normal.
Pemerintah Iran sebelumnya telah memberikan peringatan terkait pengendalian lalu lintas di selat tersebut.
Teheran bahkan mengklaim terdapat 45 kapal tanker yang melanggar aturan dan mengancam akan melakukan penyitaan muatan jika pelanggaran berlanjut.
Sementara itu, konflik yang berkepanjangan sejak akhir Februari telah memaksa berbagai negara mengandalkan cadangan minyak strategis mereka.
Departemen Energi AS melaporkan bahwa cadangan dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) turun sebanyak 3,7 juta barel pada pekan lalu.
Total cadangan minyak AS kini berada di angka 289,7 juta barel, level terendah yang tercatat sejak November 1982.
Kondisi menipisnya cadangan strategis ini menjadi perhatian serius investor karena membatasi ruang gerak penyangga pasokan di tengah ketidakpastian geopolitik global.




















