Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini tengah merancang model agribisnis terpadu berbasis lahan pascatambang untuk mengoptimalkan potensi ribuan lubang tambang yang tersebar di wilayah Kalimantan Timur.
Inisiatif ini difokuskan pada pemanfaatan kembali lahan bekas galian menjadi kawasan produktif yang menggabungkan sektor peternakan, pertanian, perikanan, hortikultura, hingga perkebunan.
Sebagai langkah awal, kawasan Agro Techno Park (ATP) di Loa Kulu, Kalimantan Timur, dipilih menjadi proyek percontohan strategis.
Proyek ini dijalankan melalui kolaborasi teknis antara BRIN dengan PT Bramasta Sakti guna mengintegrasikan teknologi tepat guna dalam pengelolaan lahan.
Pemilihan lokasi di Kalimantan Timur bukan tanpa alasan mendasar.
Data dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur per tahun 2024 menunjukkan adanya lebih dari 2.700 lubang bekas tambang yang belum direklamasi.
Jumlah signifikan tersebut tersebar di area yang secara geografis berada tidak jauh dari lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kepala Pusat Riset Peternakan ORPP BRIN, Santoso, menegaskan bahwa tantangan utama dalam proyek ini adalah kompleksitas kondisi tanah pascatambang.
Ia menekankan bahwa budidaya di lahan bekas tambang memerlukan kalkulasi mendalam yang berbeda dengan lahan pertanian konvensional.
“Kami tidak ingin sekadar membuktikan bahwa ternak dapat dipelihara di lahan bekas tambang. Yang lebih penting adalah menentukan model seperti apa yang tepat, teknologi apa yang diperlukan, komponen apa yang harus dioperasikan, dan dalam kondisi seperti apa usaha tersebut dapat berkembang,” ujar Santoso, dikutip dari situs BRIN, Senin (14/9).
Santoso menambahkan, sistem peternakan yang dikembangkan harus terintegrasi dengan tanaman pakan agar tercipta ekosistem yang saling menunjang.
Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi para pengelola dan masyarakat sekitar.
Sementara itu, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan ORPP BRIN, Sindu Akhadiarto, menyoroti penerapan konsep bioekonomi sirkular dalam model agribisnis ini.
Sindu menjelaskan bahwa sistem ini dirancang agar setiap hasil samping dari satu kegiatan dapat menjadi input bagi kegiatan lainnya.
Contohnya, limbah dari sektor peternakan dapat diolah menjadi pupuk organik berkualitas untuk mendukung kesuburan tanaman di lahan bekas tambang.
“Peternakan tidak hanya menghasilkan daging dan telur untuk manusia, tetapi juga menjadi mesin biologis yang mempercepat pemulihan fungsi ekonomi. Maka terjadilah konsep bioekonomi sirkular,” kata Sindu.
Lebih jauh, BRIN memproyeksikan ATP sebagai pusat inovasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan.
Kawasan tersebut direncanakan menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi dari perguruan tinggi, pelaku usaha swasta, dan para peneliti.
Selain fungsi produksi, area ini juga akan dikembangkan menjadi pusat agroeduwisata.
Penerapan teknologi pertanian dan peternakan terpadu di kawasan ini diharapkan dapat menjadi cetak biru (blueprint) yang bisa direplikasi oleh daerah lain yang memiliki tantangan serupa terkait lahan pascatambang.





















