Jakarta – PT Indosat Tbk (ISAT) kini tengah memperkuat fundamental bisnisnya melalui transformasi strategis yang melampaui sektor telekomunikasi konvensional.
Perusahaan telekomunikasi tersebut secara agresif berekspansi ke sektor infrastruktur digital, termasuk komputasi kecerdasan buatan (AI), layanan cloud, hingga pengembangan jaringan serat optik.
Proyek pusat komputasi AI melalui entitas Zankore menjadi motor penggerak utama bagi prospek kinerja keuangan Indosat ke depan.
Analis Indo Premier Sekuritas, Aurelia Barus, dalam risetnya tertanggal 21 September 2026, menjelaskan bahwa proyek ini diproyeksikan memberikan tambahan laba signifikan seiring dengan dimulainya operasional kapasitas awal sebesar 100 megawatt (MW).
Zankore dilaporkan telah berhasil mengamankan pendanaan senior term loan sebesar US$ 3,1 miliar.
Dana jumbo tersebut dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur Graphics Processing Unit (GPU) dan layanan cloud yang mengandalkan teknologi dari NVIDIA.
Skema pendanaan ini turut didukung oleh mekanisme bagi hasil pendapatan serta dukungan kredit dari pihak NVIDIA.
Operasional tahap pertama proyek 100 MW Zankore dijadwalkan mulai berjalan pada semester II-2027.
Sementara itu, target pendanaan untuk penambahan kapasitas 100 MW berikutnya diharapkan terealisasi pada akhir tahun fiskal 2026.
Mengenai struktur kepemilikan, Aurelia menyebutkan bahwa Indosat telah menyuntikkan dana sebesar US$ 200 juta untuk menguasai 37% saham Zankore menggunakan kas internal.
“ISAT telah menyuntikkan dana sebesar US$ 200 juta untuk mengambil 37% saham Zankore dengan menggunakan kas internal. Transaksi tersebut mengimplikasikan valuasi ekuitas Zankore setelah investasi (post-money) sebesar US$ 540 juta,” ujar Aurelia, dikutip dari Riset Indo Premier Sekuritas.
Manajemen Indosat mengestimasikan kebutuhan belanja modal sekitar US$ 3,5 miliar untuk setiap kapasitas 100 MW, dengan porsi utang sebesar US$ 3,1 miliar.
Berdasarkan asumsi tersebut, satu proyek Zankore berkapasitas 100 MW berpotensi menghasilkan pendapatan tahunan hingga US$ 1,3 miliar dengan margin EBITDA mencapai 70%.
Dengan kepemilikan saham sebesar 37%, Indosat diperkirakan akan menerima kontribusi laba bersih tambahan sekitar US$ 58 juta per tahun dari proyek ini.
Selain Zankore, pertumbuhan kinerja Indosat juga ditopang oleh anak usahanya, Infra Fiber Teknologi (IFT).
IFT kini mengelola sekitar 86.000 kilometer jaringan serat optik yang mencakup kabel bawah laut, backbone, hingga fiber-to-the-tower (FTTT).
Anak usaha ini juga tengah merencanakan pembangunan kabel bawah laut Jakarta–Manado sepanjang 4.000 kilometer yang ditargetkan rampung pada 2029.
Selain itu, IFT dijadwalkan masuk ke ekosistem AI dengan mengoperasikan pabrik GPU racks mulai awal 2027.
Kontribusi IFT diproyeksikan mampu menyumbang core net profit bagi Indosat sebesar Rp 279 miliar hingga Rp 281 miliar per tahun selama periode 2026–2028.
Berlandaskan proyeksi tersebut, Indo Premier Sekuritas menaikkan estimasi laba bersih inti ISAT untuk tahun 2027–2028 sebesar 4% hingga 17%.
Broker tersebut kini menetapkan target harga saham ISAT di level Rp 4.650.
Hingga perdagangan Rabu (23/9/2026) pukul 09.34 WIB, saham ISAT tercatat berada di level Rp 2.380 per lembar, setelah mengalami koreksi sebesar 1,24%.





















