IHSG Menguat ke Level 6.055, Rupiah Bertahan di Rp 17.888

Rayhan Akhari

IHSG Menguat ke Level 6.055, Rupiah Bertahan di Rp 17.888

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali sesi perdagangan awal pekan ini dengan mencatatkan penguatan tipis di zona hijau.

Berdasarkan data Stockbit pada Senin (5/10/2026) pukul 09.00 WIB, indeks acuan domestik tersebut dibuka pada level 6.055,16.

Angka tersebut menunjukkan apresiasi sebesar 0,30 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.

Kenaikan IHSG ini terjadi di tengah dinamika pasar keuangan global yang menunjukkan sentimen beragam di berbagai bursa utama Asia.

Namun, penguatan di pasar modal domestik tidak diikuti oleh performa mata uang nasional pada pagi hari ini.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau mengalami koreksi di pasar spot.

Data Stockbit menunjukkan mata uang Garuda berada di level Rp17.888,90 per dolar AS.

Posisi tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 63,00 poin atau 0,35 persen.

Sebagai perbandingan, pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah sempat bertengger di level Rp17.825,90 per dolar AS.

Kondisi pasar keuangan regional di kawasan Asia pada Senin pagi ini terpantau bergerak variatif.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Stockbit dan Yahoo Finance, investor merespons berbagai sentimen makroekonomi yang berbeda di masing-masing negara.

Indeks Nikkei 225 di Jepang memimpin penguatan dengan lonjakan signifikan sebesar 1,80 persen ke level 69.536,00.

Sementara itu, indeks SSE Composite di China turut mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,23 persen menuju level 3.839,25.

Sentimen positif juga menyentuh bursa Singapura, di mana indeks Straits Times bergerak naik sebesar 0,05 persen ke posisi 5.670,70.

Di sisi lain, tekanan jual tampak membayangi pasar Hong Kong pada awal sesi perdagangan hari ini.

Indeks Hang Seng tercatat terkoreksi sebesar 0,40 persen dan menetap di level 23.877,00.

Perbedaan arah pergerakan indeks di Asia ini sering kali dipengaruhi oleh kebijakan moneter global dan data ekonomi domestik masing-masing negara.

Para pelaku pasar saat ini tengah memantau perkembangan kebijakan suku bunga serta data inflasi yang menjadi acuan utama investor dalam menentukan portofolio aset mereka.

Volatilitas yang terjadi pada nilai tukar rupiah dan pergerakan IHSG yang tipis menunjukkan bahwa investor masih mengambil posisi hati-hati di awal pekan.

Kondisi ini mencerminkan sikap pasar yang sedang menanti katalis baru guna memastikan arah tren perdagangan yang lebih konsisten dalam jangka pendek.

Hingga berita ini diturunkan, pergerakan IHSG masih terus dipantau untuk melihat potensi kelanjutan tren penguatan atau justru berbalik arah mengikuti tekanan pada nilai tukar rupiah.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar