Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan lonjakan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang semester pertama tahun 2026.
Emiten yang bergerak di sektor energi panas bumi ini membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 15,48% secara tahunan hingga 30 Juni 2026.
Nilai laba bersih perusahaan tercatat mencapai US$ 79,605 juta pada periode tersebut.
Pencapaian ini didukung oleh pendapatan perusahaan yang tumbuh 14,7% menjadi US$ 235,027 juta, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 204,850 juta.
Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat, mengungkapkan bahwa kenaikan pendapatan tersebut dipicu oleh peningkatan produksi serta keandalan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).
“Naiknya pendapatan ditopang pertumbuhan produksi dan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (5/10/2026).
Selain performa laba, kondisi permodalan perusahaan juga menunjukkan stabilitas dengan total ekuitas mencapai US$ 2,006 miliar.
Tingkat liabilitas perusahaan tercatat mengalami penurunan sebesar 2,80% menjadi US$ 961,184 juta dibandingkan akhir tahun 2025.
Dari sisi operasional, PGE mencatatkan rekor produksi tertinggi hingga 31 Juli 2026 dengan total mencapai 3.222 gigawatt hour (GWh).
Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 12,7% jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu yang sebesar 2.859 GWh.
Manajemen menargetkan total produksi sepanjang tahun 2026 dapat menyentuh angka 5.255 GWh.
Pertumbuhan produksi ini tersebar di berbagai wilayah operasi, dengan lonjakan signifikan terjadi di Lumut Balai sebesar 85,5% menjadi 567 GWh.
Peningkatan juga terjadi di wilayah Kamojang, Karaha, Ulubelu, dan Lahendong, yang menunjukkan efisiensi operasional yang terjaga dengan capacity factor mencapai 90,62%.
Perusahaan saat ini tengah mempercepat ekspansi proyek strategis, termasuk pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Muara Enim, Sumatra Selatan.
Proyek tersebut telah mendapatkan dukungan pendanaan melalui skema pinjaman luar negeri setelah masuk dalam Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas.
PGE juga tengah merampungkan sejumlah proyek lainnya, seperti proyek co-generation berkapasitas 230 MW yang ditargetkan mencapai kesepakatan jual beli listrik pada kuartal IV 2026.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menegaskan bahwa pengembangan berkelanjutan ini merupakan langkah nyata perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional.
“Sebagai world leading geothermal producer, PGE memahami bahwa ketahanan energi nasional memerlukan pasokan listrik yang tidak hanya bersih, tetapi juga stabil dan andal. Kinerja yang solid dan proyek yang terus bergerak menjadi fondasi kami untuk tumbuh secara berkelanjutan,” tutur Ahmad Yani.
Dengan fondasi operasional yang kokoh, perusahaan terus berupaya mengoptimalkan aset yang ada guna menjaga stabilitas pasokan energi listrik yang bersih bagi kebutuhan nasional.























