Beban Bunga Naik, Korporasi Pilih Terbitkan Obligasi Ketimbang IPO

Rayhan Akhari

Beban Bunga Naik, Korporasi Pilih Terbitkan Obligasi Ketimbang IPO

Jakarta – Biaya pendanaan bagi korporasi di Indonesia kini berada dalam tren peningkatan seiring dengan kondisi ekonomi makro yang menantang. Tekanan tersebut dipicu oleh kombinasi kenaikan suku bunga, lonjakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Fenomena ini terlihat jelas dari kenaikan kupon yang ditawarkan emiten dalam aksi korporasi penerbitan obligasi terbaru. Salah satu contohnya adalah PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang memberikan kupon 9% untuk obligasi senilai Rp500 miliar, lebih tinggi dibanding penawaran sebelumnya sebesar 8,95%.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su, Senin (5/10/2026), menjelaskan bahwa kenaikan kupon obligasi merupakan cerminan dari meningkatnya biaya pendanaan perusahaan. Menurutnya, investor saat ini menuntut premi risiko yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas ketidakpastian pasar, risiko kredit, dan volatilitas suku bunga.

Harry menambahkan bahwa tekanan biaya utang ini diperparah oleh kenaikan yield US Treasury. Hal tersebut memaksa investor meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko nilai tukar, terutama bagi emiten yang memiliki beban utang dalam mata uang dolar AS namun mengandalkan pendapatan dalam rupiah.

Risiko bagi emiten dengan tingkat leverage tinggi pun meningkat secara signifikan. Beban bunga yang membengkak berpotensi menekan laba bersih serta arus kas perusahaan jika pertumbuhan EBITDA tidak mampu mengimbangi kenaikan biaya utang tersebut.

Meski demikian, obligasi tetap menjadi instrumen pendanaan yang diminati karena tidak menyebabkan dilusi kepemilikan saham bagi pemegang saham eksisting. Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai bahwa obligasi menawarkan kepastian arus kas yang lebih terukur dibandingkan investasi saham di tengah situasi pasar yang sedang tidak menentu.

Hendra menekankan bahwa kenaikan bunga tidak selalu berarti negatif bagi kesehatan perusahaan. Jika dana hasil obligasi digunakan untuk ekspansi produktif atau membiayai proyek dengan return di atas biaya utang, hal tersebut justru dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

Namun, investor diingatkan untuk tetap selektif dalam memilih instrumen obligasi. Analisis mendalam mengenai rasio utang terhadap ekuitas, interest coverage ratio, serta arus kas operasional menjadi kunci bagi investor untuk menghindari risiko gagal bayar.

Di sisi lain, aktivitas penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia terpantau melambat drastis. Hingga 5 Oktober 2026, baru tujuh perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa dengan total dana terhimpun sebesar Rp2,16 triliun.

Jumlah tersebut masih jauh dari target 50 emiten baru yang dicanangkan otoritas bursa untuk tahun 2026. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi Frensidy menyatakan bahwa pasar saat ini sedang berada dalam fase kehati-hatian tinggi.

Budi mengingatkan para investor agar tidak hanya mengejar potensi keuntungan jangka pendek pada hari pertama perdagangan saham. Fokus utama investor seharusnya tetap pada fundamental perusahaan, valuasi, serta prospek pertumbuhan emiten di masa depan di tengah volatilitas pasar yang masih cukup tajam.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar