Rupiah Tertekan Gejolak Global, Simak Proyeksi Hingga Akhir 2026

Rayhan Akhari

Rupiah Tertekan Gejolak Global, Simak Proyeksi Hingga Akhir 2026

Jakarta – Nilai tukar rupiah menghadapi tantangan berat di penghujung tahun 2026 akibat akumulasi tekanan dari pasar keuangan global yang terus menekan mata uang domestik.

Hingga perdagangan Selasa (6/10), rupiah ditutup pada level Rp 17.899 per dolar AS, meskipun mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,10 persen secara harian.

Posisi saat ini menunjukkan tren pelemahan yang signifikan jika dibandingkan dengan awal tahun 2026 yang sempat berada di kisaran Rp 16.700 hingga Rp 16.815 per dolar AS.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin, menyatakan bahwa mata uang Garuda kini berada dalam fase defensif karena harus menghadapi berbagai guncangan ekonomi global secara bersamaan.

“Kondisi tersebut meningkatkan biaya peluang atau opportunity cost memegang aset rupiah sekaligus memperbesar premi risiko,” ujar Syafruddin dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026).

Menurut pengamatannya, tekanan eksternal yang terjadi saat ini sudah tercermin dalam proses penyesuaian harga atau repricing nilai tukar di pasar.

Salah satu pemicu utama tekanan tersebut adalah yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun yang bertahan di level tinggi, yakni sekitar 5,3 persen pada Selasa (6/10/2026).

Secara bersamaan, indeks dolar AS (DXY) juga menguat ke kisaran 102,4, sementara yield obligasi Jepang (JGB) 10 tahun berada di level 3,10 persen hingga 3,12 persen.

Faktor harga minyak dunia yang masih tinggi turut menambah beban bagi nilai tukar rupiah dalam menghadapi dinamika pasar global.

Syafruddin menambahkan bahwa pasar saat ini tengah mengantisipasi pertemuan The Fed pada 27-28 Oktober mendatang, dengan probabilitas 78 persen suku bunga akan dipertahankan.

Strategi yang diterapkan Bank Indonesia (BI) dinilai masih relevan, namun tantangan utama terletak pada serangan tekanan yang datang dari berbagai kanal sekaligus.

BI sebelumnya telah mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen pada September dan terus melakukan intervensi melalui pasar valas serta pengelolaan likuiditas.

“Dalam shock global sebesar sekarang, fungsi utamanya ialah memutus momentum satu arah, memperkecil volatilitas, menjaga price discovery, dan mencegah pelemahan kurs berubah menjadi kenaikan premi risiko SBN,” jelas Syafruddin.

Meskipun fundamental ekonomi domestik masih memberikan bantalan, kualitas dukungan tersebut dinilai belum merata untuk menopang apresiasi rupiah secara berkelanjutan.

Data cadangan devisa per akhir Agustus yang mencapai US$ 146,5 miliar atau setara 5,4 bulan impor dinilai memberikan kapasitas intervensi yang memadai bagi otoritas moneter.

Namun, neraca perdagangan yang mencatat surplus US$ 7,25 miliar hingga Agustus masih terbebani oleh defisit sektor migas yang mencapai US$ 21,29 miliar.

“Ini menunjukkan harga energi tetap menjadi titik lemah rupiah,” tambah Syafruddin.

Ia memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.850 hingga Rp 18.200 per dolar AS hingga akhir tahun 2026, dengan level Rp 18.000 menjadi batas psikologis yang krusial.

Risiko pelemahan lebih dalam hingga level Rp 18.500 per dolar AS tetap terbuka jika skenario stres global, seperti lonjakan harga minyak dan arus modal keluar, terjadi secara simultan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar