Jakarta – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) melihat kebijakan Work From Home (WFH) sebagai sinyal peringatan akan potensi krisis energi. Dunia usaha dan masyarakat diminta bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, menekankan bahwa WFH bukan sekadar fleksibilitas kerja. Ini adalah upaya membangun kesadaran akan krisis energi yang perlu diantisipasi.
“WFH ini kita bisa mengirimkan sense of crisis kepada seluruh anggota, bahwa kita harus bersiap menghadapi kelangkaan energi,” ujar Bob dalam sebuah acara di Jakarta, Kamis (2/4) malam.
Meski begitu, Bob mengingatkan agar produktivitas tetap dijaga. Penurunan produktivitas bisa memicu dampak ekonomi yang lebih luas.
“Kita juga harus mempertahankan produktivitas, jangan sampai turun. Karena kalau kelangkaan energi diikuti dengan kelangkaan barang, itu bisa menyebabkan inflasi yang akan memperburuk ekonomi kita,” jelasnya.
Pelaksanaan WFH, menurut Bob, harus hati-hati. Tujuannya adalah meningkatkan kewaspadaan terhadap krisis sekaligus menjaga kinerja ekonomi.
“Sense of crisis-nya sampai, tapi produktivitas tetap harus dijaga. Kita tetap harus menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat,” tegasnya.
Bob juga menyoroti bahwa WFH tidak bisa diterapkan secara menyeluruh. Sektor industri yang bergantung pada produksi harus tetap beroperasi.
Pemerintah juga diminta memastikan pasokan bahan baku lancar. Relaksasi impor bahan baku menjadi penting di tengah ketidakpastian global.
“Kita berharap jangan sampai ada bottleneck terhadap bahan baku. Kalau ini dibatasi dengan kuota dan lain sebagainya, saya khawatir kita akan kesulitan bahan baku dan tidak bisa mempertahankan produksi,” imbuhnya.
Sektor layanan publik, transportasi, dan layanan umum juga tidak memungkinkan WFH secara penuh. Namun, fungsi back office bisa menerapkan WFH dengan fleksibilitas tertentu.
“Yang back office saya rasa memungkinkan untuk dilakukan WFH. Diserahkan kepada kebijakan perusahaan masing-masing,” pungkasnya.





















