Washington DC – Hubungan diplomatik dan ekonomi antara Amerika Serikat dan Kanada kini berada di titik nadir setelah negosiasi perdagangan bilateral selama sepekan berakhir tanpa kesepakatan.
Kondisi ini memicu eskalasi perang dagang yang ditandai dengan pemberlakuan tarif baru sebesar 50 persen oleh Washington terhadap produk-produk asal Kanada sejak Sabtu (22/8).
Kebijakan tarif tersebut mencakup berbagai komoditas, mulai dari stik hoki hingga semen, dengan nilai barang mencapai US$ 20 miliar atau sekitar 5,5 persen dari total ekspor Kanada ke AS.
Presiden AS, Donald Trump, melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Minggu (23/8), melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan Ottawa.
Trump menuding Kanada telah lama menerapkan tarif tinggi yang merugikan para petani AS.
Ia bahkan kembali melontarkan gagasan kontroversial dengan menyebut bahwa, “Kanada menginginkan keuntungan menjadi sebuah negara bagian, tanpa benar-benar menjadi negara bagian,” sebagaimana dikutip dari AFP.
Di sisi lain, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menanggapi langkah Washington sebagai bentuk serangan terhadap kedaulatan ekonomi negaranya.
“Ketika Anda diserang, Anda sedang berperang. (Dan) kami diserang,” tegas Carney dikutip dari AFP.
Pemerintah Kanada merespons kebijakan tersebut dengan menyiapkan tarif balasan yang akan menyasar industri baja serta produk susu asal AS, yang rencananya mulai berlaku pada 8 September mendatang.
Carney menjelaskan bahwa pihaknya terpaksa meninggalkan meja perundingan karena Washington mengajukan persyaratan baru yang dinilai tidak ekonomis dan merugikan pihak Kanada.
“Singkatnya, mereka meminta terlalu banyak dan menawarkan terlalu sedikit. Kami tidak dapat menerima apa yang mereka tawarkan, dan kami tidak akan memberikan apa yang mereka minta,” ujar Carney dalam pernyataan resminya.
Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, membantah tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa Washington sejatinya telah menawarkan pengurangan tarif signifikan pada sektor baja, aluminium, otomotif, dan kayu.
Greer menyebutkan bahwa Kanada menolak menyelesaikan kesepakatan berdasarkan persyaratan yang sebelumnya telah disepakati pada awal pekan.
“Kanada menolak untuk menyelesaikan kesepakatan perdagangan malam ini berdasarkan persyaratan yang telah disepakati awal pekan ini,” ujar Greer dikutip dari AFP.
Hingga saat ini, belum ada jadwal pembicaraan lanjutan antara kedua belah pihak, sehingga ketidakpastian ekonomi diprediksi akan terus berlanjut.
Mantan pejabat Departemen Perdagangan AS, Ryan Majerus, menilai bahwa kedua negara kini berada di bawah tekanan besar untuk mencari jalan keluar dari kebuntuan tersebut.
“Dalam beberapa hari mendatang, kedua pihak akan menghadapi tekanan besar untuk menemukan jalan keluar,” kata Majerus dikutip dari AFP.
Dampak dari perang dagang ini juga mendapat perhatian dari kalangan domestik AS, termasuk Senator dari Minnesota, Amy Klobuchar.
Ia memperingatkan bahwa eskalasi ini akan membebani pelaku usaha kecil, petani, dan keluarga di wilayahnya yang sangat bergantung pada perdagangan dengan Kanada.
“Kanada adalah mitra dagang nomor satu Minnesota. Warga Minnesota (kelak yang harus) membayar akibat kekacauan Trump,” tulis Klobuchar melalui akun media sosialnya.
Kondisi ini memperpanjang deretan keretakan hubungan bilateral, termasuk kebuntuan dalam revisi perjanjian perdagangan Amerika Utara, USMCA.
Carney menegaskan bahwa hubungan Kanada dengan AS telah berubah secara permanen dan negaranya kini mulai mempertimbangkan untuk mengurangi ketergantungan ekspor ke pasar AS yang saat ini mencapai 70 persen.
“Kami tidak memiliki ilusi. Sejak awal kami menyadari bahwa Amerika telah berubah. Kami menyadari bahwa terkadang, tanda tangan mereka ditulis dengan pensil (yang dapat dihapus sewaktu-waktu),” ujar Carney dikutip dari AFP.






















