Bursa Asia Bergerak Variatif, Mayoritas Indeks Menguat di Awal Perdagangan

Rayhan Akhari

Bursa Asia Bergerak Variatif, Mayoritas Indeks Menguat di Awal Perdagangan

Jakarta – Mayoritas bursa saham di kawasan Asia mencatatkan pergerakan variatif pada perdagangan Rabu (16/9/2026) pagi, di tengah sikap pelaku pasar yang cenderung berhati-hati.

Kondisi pasar yang cenderung mendatar ini terjadi setelah bursa regional sempat mengalami tekanan jual selama empat sesi perdagangan berturut-turut sebelumnya.

Data perdagangan pukul 08.20 WIB menunjukkan indeks Nikkei 225 di Jepang melemah 73,89 poin atau 0,11% ke level 63.418,08.

Sebaliknya, indeks Hang Seng di Hong Kong justru menguat 122,67 poin atau 0,50% ke posisi 24.789,91.

Pergerakan positif juga dialami oleh indeks Taiex yang naik 0,23% ke 45.624,43, serta indeks Kospi yang terapresiasi 0,13% ke level 6.634,14.

Di Australia, indeks ASX 200 mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,06% menuju level 8.678,10.

Indeks Straits Times di Singapura turut menghijau dengan kenaikan 0,14% ke posisi 5.647.

Sementara itu, FTSE Malaysia menjadi salah satu indeks dengan koreksi terdalam, yakni turun 1,11% ke angka 1.679,21.

Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia dilaporkan naik tipis sebesar 0,2%, menggambarkan keseimbangan antara saham yang mencatatkan penguatan dan pelemahan, sebagaimana dilansir dari Bloomberg.

Sentimen utama yang membayangi pergerakan bursa hari ini adalah antisipasi investor terhadap pengumuman kebijakan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.

Pasar saat ini telah memproyeksikan bahwa The Fed akan segera menaikkan suku bunga acuannya untuk pertama kali sejak tahun 2023.

Ketidakpastian mengenai besaran kenaikan tersebut memicu sikap menahan diri di kalangan pelaku pasar global.

“Jika The Fed mengikuti pasar berjangka dan menaikkan suku bunga, menurut kami saham kemungkinan akan mengalami tekanan penurunan dalam jangka pendek,” ujar Chris Senyek dari Wolfe Research.

Meski demikian, Senyek memberikan pandangan yang lebih optimistis terhadap tren pasar dalam jangka waktu yang lebih panjang.

“Namun kami menemukan bahwa dalam jangka waktu lebih panjang, saham biasanya pulih dan bergerak ke wilayah positif,” tambahnya dikutip dari Wolfe Research.

Selain pasar saham, sektor komoditas logam mulia juga terpantau merespons dinamika kebijakan moneter ini.

Harga emas diketahui melanjutkan koreksi pada perdagangan Rabu pagi, seiring dengan penguatan posisi dolar AS yang dipicu oleh ekspektasi kenaikan suku bunga.

Para analis akan terus memantau pernyataan resmi The Fed guna mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat ke depan.

Keputusan final mengenai suku bunga tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan bursa saham global, termasuk di Asia, pada penutupan perdagangan hari ini.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar