Ekonomi Bergejolak, Masyarakat Pilih Investasi atau Perbanyak Tunai?

persen

apa-pilihan-terbaik-saat-krisis:-investasi,-dana-darurat,-atau-cash?
Apa Pilihan Terbaik saat Krisis: Investasi, Dana Darurat, atau Cash?

Jakarta – Konflik di Timur Tengah memicu gejolak ekonomi global, termasuk kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah. Di tengah ketidakpastian ini, masyarakat dihadapkan pada pilihan sulit: investasi, dana darurat, atau tunai?

Perencana keuangan menyarankan prioritas berbeda, tergantung kondisi keuangan masing-masing individu.

Bagi yang penghasilannya stabil, investasi jangka panjang tetap disarankan.

“Jika memang kita secara income tetap stabil dan mampu menghadapi gejolak situasi keuangan saat ini, maka kita bisa melakukan investasi rutin untuk jangka panjang untuk mendapatkan aset investasi bernilai yang sedang terkoreksi nilainya,” ujar Budi Rahardjo, perencana keuangan OneShildt.

Namun, jika ada potensi gangguan penghasilan, fokus sebaiknya pada peningkatan likuiditas dan dana darurat.

“Untuk situasi di mana penghasilan mungkin masih stabil, namun kita bisa memprediksi bahwa bisa jadi pekerjaan atau bisnis dalam beberapa bulan ke depan dapat terganggu, maka meningkatkan likuiditas dan memperbesar porsi dana darurat menjadi pilihan,” jelas Budi.

Bahkan, dana darurat bisa ditingkatkan menjadi 6-12 bulan pengeluaran.

Senada, Andi Nugroho dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) menekankan pentingnya menyesuaikan strategi dengan kondisi masing-masing.

Bagi yang berpenghasilan terbatas, memegang uang tunai menjadi prioritas utama.

“Kalau penghasilannya terbatas dan kebutuhannya banyak, maka yang harus diprioritaskan adalah memegang uang tunai dulu. Karena kalau terjadi kondisi yang memaksa, masih punya uang cash untuk memenuhi kebutuhan,” kata Andi.

Investasi sebaiknya menjadi prioritas terakhir dalam kondisi ini.

Sebaliknya, bagi yang kondisi keuangannya lebih longgar, investasi rutin tetap bisa dilakukan, sambil menjaga dana darurat dan likuiditas.

“Untuk yang penghasilannya sudah lebih dari cukup, ya saat ini waktu yang tepat untuk tetap rutin menyisihkan untuk investasi, karena ada banyak investasi yang harganya lagi turun,” imbuh Andi.

Namun, investasi harus menggunakan “uang dingin” yang tidak mengganggu kebutuhan dasar.

Andi memberikan gambaran alokasi ideal: 10% untuk dana darurat dan investasi, sisanya untuk kebutuhan dan likuiditas.

Dengan fleksibilitas ini, kelompok dengan keuangan stabil dapat menjalankan ketiga strategi sekaligus.

Rekomendasi