Jakarta – Jemaah haji perempuan diperkirakan akan mendominasi pelaksanaan ibadah haji 2026. Jumlahnya diprediksi mencapai lebih dari 50 persen dari total jemaah.
Kabar ini disambut baik oleh Anggota Amirul Hajj Perempuan 2023–2024, Alissa Wahid. Ia menyoroti pentingnya penambahan petugas haji perempuan untuk melayani kebutuhan khusus jemaah perempuan.
“Kita sangat senang jumlah petugas haji perempuan terus ditambah, karena kebutuhannya memang real, terutama pembimbing ibadah perempuan,” ujar Alissa saat mengisi kelas Diklat PPIH Arab Saudi 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Alissa juga menekankan perlunya pemerintah mempertimbangkan fasilitas yang ramah perempuan.
Ia mencontohkan pengalamannya saat menjadi petugas haji, di mana ia dan beberapa petugas membuat kebijakan terkait penggunaan setengah kamar mandi laki-laki untuk jemaah perempuan.
“Karena meski jumlah kamar mandinya itu sama, sementara proses jemaah haji perempuan di kamar mandi berbeda dengan laki-laki,” jelasnya.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) sendiri menjanjikan penyelenggaraan Haji 2026 yang ramah perempuan.
Direktur Bina Petugas Haji Reguler Kemenhaj, Chandra Sulistio Reksoprodjo, menegaskan pentingnya petugas haji memahami kebutuhan jemaah perempuan.
“Di sana itu ramai, orang kita badannya kecil, paling tidak, misalnya saat beribadah, kita (petugas haji) membuat lingkaran untuk melindungi jemaah perempuan,” kata Chandra.
Chandra menambahkan, jemaah perempuan Indonesia seringkali merasa takut untuk bertanya dalam situasi baru. Di sinilah peran petugas haji menjadi sangat penting.
“Kita (petugas haji) sudah harus membaca, langsung punya feeling,” pungkasnya.
Wamenhaj menyebutkan bahwa persentase petugas haji perempuan pada 2026 mencapai 33,2 persen, melampaui target 30 persen.




















