Harga Minyak Turun ke US$ 80 Usai Trump Tawarkan Perundingan Iran

persen

Harga Minyak Turun ke US$ 80 Usai Trump Tawarkan Perundingan Iran

Singapura – Harga minyak mentah dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (4/8), seiring dengan dinamika geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Patokan harga minyak Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), tercatat menyentuh level US$ 80 per barel pada Selasa pagi.

Data pasar menunjukkan WTI melemah sebesar 0,4 persen menjadi US$ 80,02 per barel pada pukul 06.40 waktu Singapura.

Pada penutupan perdagangan Senin, harga minyak Brent juga terpantau melemah di posisi US$ 83,77 per barel.

Volatilitas harga minyak ini dipicu oleh ketegangan yang terus berlanjut di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah runtuhnya gencatan senjata pada Juni lalu.

Konflik yang meluas hingga ke wilayah Laut Merah menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar energi global.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan telah melayangkan tawaran perundingan terakhir kepada pihak Iran.

Trump menyatakan bahwa perundingan tersebut difokuskan pada pembukaan akses Selat Hormuz yang saat ini menjadi titik krusial pengiriman komoditas.

“Ini adalah kesempatan terakhir bagi Iran untuk menandatangani dokumen yang baik. Saya ingin memberi mereka setiap kesempatan terakhir sebelum pemenggalan,” ujar Trump sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Selasa (4/8).

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pembatalan aksi militer yang sempat direncanakan oleh pihak Amerika Serikat terhadap Iran.

Sebaliknya, pemerintah Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan pihak Amerika Serikat.

Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaee, menegaskan bahwa negaranya saat ini lebih berfokus pada dialog dengan Oman terkait lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

“Washington harus mengambil langkah pertama dan mengubah perilakunya,” tegas Rezaee dalam keterangannya kepada televisi pemerintah Iran.

Selat Hormuz memegang peranan vital bagi pasar energi dunia karena menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak dan gas global setiap harinya.

Associate Dean di Center for Global Affairs, New York University, Carolyn Kissane, menilai kondisi pasar akan terus mengalami ketidakpastian.

“Selama masih ada peluang untuk memindahkan pasokan minyak, kondisi yang naik-turun seperti ini kemungkinan akan terus berlanjut. Iran tidak ingin meningkatkan eskalasi, tetapi ingin mempertahankan ketegangan,” ungkap Kissane.

Di sisi lain, gangguan logistik juga terjadi pada ekspor minyak Arab Saudi yang mengalami penurunan sebesar 460.000 barel per hari.

Data pelacakan kapal menunjukkan volume ekspor Saudi menyentuh angka 4,19 juta barel per hari pada bulan lalu.

Selain konflik di Timur Tengah, ancaman terhadap rantai pasok minyak Rusia juga memperburuk risiko pasokan global.

Sepanjang Juli, tercatat sedikitnya 30 serangan yang menyasar kilang, kapal tanker, serta infrastruktur pelabuhan di Rusia.

Kondisi keamanan di Laut Hitam menyebabkan para pemilik kapal tanker kini lebih selektif dalam melakukan pemuatan minyak mentah di terminal-terminal Rusia.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar