Harga Pertamax Turun, Mengapa Bensin Masih Picu Inflasi Juli?

Kholida Rahman

Harga Pertamax Turun, Mengapa Bensin Masih Picu Inflasi Juli?

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,14 persen pada Juli 2026.

Meskipun secara umum terjadi deflasi, sektor transportasi justru mencatatkan inflasi sebesar 0,52 persen secara bulanan (month-to-month).

Komoditas bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar dalam kelompok transportasi dengan andil sebesar 0,08 persen.

Kondisi ini terjadi di tengah penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang telah diberlakukan pemerintah sejak awal Juli 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memberikan penjelasan terkait anomali data tersebut.

Menurut dia, fenomena ini dipengaruhi oleh efek basis atau base effect dalam metodologi perhitungan inflasi bulanan.

“Teman-teman media, mengapa bensin mengalami inflasi secara month-to-month padahal harga BBM nonsubsidi turun pada 1 Juli 2026? Ini terutama disebabkan karena adanya base effect,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (3/8/2026), dikutip dari laporan resmi BPS.

Ateng memaparkan bahwa harga Pertamax pada periode 1 hingga 9 Juni 2026 berada pada kisaran Rp12.000 per liter.

Perbandingan rata-rata harga bensin sepanjang Juli dengan rata-rata harga pada Juni menunjukkan angka yang lebih tinggi.

“Jika Juli dibandingkan dengan rata-rata harga pada Juni, harganya masih lebih tinggi sehingga bensin masih mengalami inflasi secara rata-rata bulanannya,” kata dia, dilansir dari keterangan pers BPS.

Selain bensin, tekanan inflasi pada kelompok transportasi juga disumbang oleh kenaikan harga sepeda motor dan pelumas atau oli mesin.

Kedua komoditas tersebut masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen terhadap total inflasi bulanan.

Di sisi lain, BPS mencatat adanya pergerakan harga yang signifikan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Kelompok tersebut menjadi penyumbang utama deflasi bulanan pada Juli 2026 dengan tingkat deflasi sebesar 0,89 persen.

Andil deflasi dari sektor pangan ini mencapai 0,26 persen, yang berhasil meredam tekanan inflasi dari sektor lainnya.

Sementara itu, kelompok pendidikan turut memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen pada periode yang sama.

Secara tahunan (year-on-year), tingkat inflasi nasional menunjukkan tren pelandaian yang cukup signifikan.

Inflasi tahunan turun dari 3,34 persen pada Juni 2026 menjadi 2,28 persen pada Juli 2026.

Pemerintah terus memantau dinamika harga komoditas strategis untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga energi global.

Data BPS menunjukkan bahwa meskipun terdapat penurunan harga di tingkat konsumen untuk beberapa komoditas, perhitungan statistik tetap mempertimbangkan rata-rata harga dalam rentang waktu satu bulan penuh.

Kondisi deflasi yang terjadi pada Juli 2026 ini menjadi cerminan dari penurunan harga komoditas pangan yang cukup tajam dibandingkan bulan sebelumnya.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar