Jakarta – Kinerja keuangan PT Timah Tbk (TINS) diprediksi tetap mencatatkan performa solid hingga penutupan kuartal III tahun 2026.
Optimisme ini didorong oleh stabilnya harga komoditas timah di pasar global yang bertahan di kisaran US$ 53.000 per ton.
Selain itu, tingginya permintaan dari sektor industri elektrifikasi serta semikonduktor menjadi katalis utama bagi pertumbuhan perusahaan.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, menyatakan bahwa pengetatan pasokan global memberikan dampak positif terhadap harga jual rata-rata perseroan.
“Volume penjualan berpotensi terdongkrak karena market share membesar, dan harga jual rata-rata ikut terangkat karena pengetatan pasokan global,” ujar Adrian, Jumat (31/7/2026).
Langkah pemerintah dalam menertibkan pertambangan ilegal juga dinilai sebagai faktor krusial yang memperbaiki operasional perusahaan.
Penegakan hukum tersebut terbukti efektif dalam memulihkan arus pasokan bahan baku menuju fasilitas peleburan milik emiten pelat merah tersebut.
Adrian menambahkan, kebutuhan teknologi masa depan seperti kecerdasan buatan (AI) dan pusat data turut mengerek konsumsi timah secara signifikan.
“Permintaan tambahan dari sektor elektronik, AI, semikonduktor, dan data center yang mendorong konsumsi timah,” ungkapnya.
Data riset Ciptadana Sekuritas Asia mencatat produksi bijih timah TINS pada semester I-2026 melonjak 75% secara tahunan menjadi 12.232 ton.
Volume penjualan logam timah pun mencatatkan kenaikan impresif sebesar 84% menjadi 10.984 ton pada periode yang sama.
Pencapaian operasional tersebut berkontribusi pada lonjakan pendapatan konsolidasi sebesar 147% menjadi Rp10,4 triliun di paruh pertama 2026.
Namun, Adrian mengingatkan para investor untuk tetap mewaspadai volatilitas harga komoditas dan perubahan regulasi terkait royalti.
Risiko koreksi harga akibat perlambatan permintaan global serta fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.
Di sisi lain, analis Bahana Sekuritas, Jeremy Mikael, memproyeksikan volume penjualan logam timah TINS akan mencapai 23,3 ribu ton sepanjang tahun 2026.
Posisi strategis TINS dalam ekosistem MIND ID dan Danantara memberikan nilai tambah tersendiri bagi tata kelola modal perusahaan.
Integrasi ini membuka peluang bagi peningkatan imbal hasil dividen bagi para pemegang saham di masa depan.
Riset Bahana Sekuritas mengestimasi TINS berpotensi menghasilkan rata-rata dividend yield hingga 13,4% untuk periode 2026-2028.
“Berdasarkan rekam jejak historis, beberapa emiten yang berada di dalam ekosistem Danantara memberikan pembagian dividend payout ratio yang besar, sehingga kami menilai potensi pembagian dividen juga akan cukup positif,” kata Adrian.
Sentimen positif juga datang dari derasnya aliran dana asing ke saham TINS yang menunjukkan kepercayaan pasar terhadap pemulihan kinerja perseroan.
Berdasarkan seluruh katalis tersebut, Adrian memberikan rekomendasi Trading Buy dengan target harga di level Rp 3.780 per saham.



















