Jakarta – Kinerja pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2026 menempatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai salah satu indeks dengan performa terburuk secara global. Meskipun sempat mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,37% ke level 6.525,69 pada perdagangan Jumat (21/8), tren tersebut gagal menutupi pelemahan akumulatif yang terjadi sejak awal tahun. Berdasarkan data Indonesia Stock Exchange Daily Statistics, IHSG tercatat masih terperosok dengan koreksi sebesar 24,53% secara year to date (ytd).
Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai pasar dengan kinerja paling lemah di kawasan Asia Tenggara. Dari enam bursa utama ASEAN, Thailand memimpin dengan pertumbuhan 28,11% ytd, diikuti Singapura sebesar 22,44%. Sementara itu, Malaysia dan Filipina masing-masing mencatatkan kenaikan moderat. Hanya Vietnam yang menyertai Indonesia dalam zona negatif, namun dengan angka kontraksi yang jauh lebih kecil, yakni 3,24% ytd.
Cakupan pelemahan IHSG bahkan melampaui batas regional Asia Pasifik. Dalam tabel World Index Comparison yang dirilis Bursa Efek Indonesia, IHSG menempati posisi juru kunci dari 13 indeks yang diperbandingkan di kawasan tersebut. Tekanan ini dinilai sangat dalam, mengingat bursa seperti Korea Selatan justru mampu mencatatkan reli hingga 64,04% ytd. Bahkan pasar yang mengalami kontraksi seperti India dan Cina menunjukkan ketahanan yang lebih baik dibandingkan Indonesia.
Secara sektoral, pelemahan IHSG terpantau merata di berbagai lini. Indeks energi, teknologi, properti, hingga infrastruktur mencatatkan penurunan di atas 25% sepanjang tahun ini. Kelompok indeks utama seperti LQ45, IDX80, hingga indeks berbasis syariah seperti JII juga mengalami tekanan jual yang signifikan. Fenomena ini menunjukkan bahwa anjloknya indeks bukan sekadar dampak dari volatilitas satu sektor, melainkan tekanan sistemik yang luas.
Meski demikian, beberapa emiten masih mampu mencatatkan pertumbuhan nilai di tengah arus koreksi, seperti EMAS yang naik 42,34% dan ADRO sebesar 40,88%. Namun, kenaikan saham-saham tersebut belum mampu menahan laju penurunan indeks utama, mengingat saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti DSSA, BREN, dan TPIA justru menjadi pemberat utama indeks dengan koreksi tajam.
Menanggapi kondisi ini, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, memprediksi tantangan makroekonomi akan mendominasi sepanjang semester II 2026. Menurutnya, faktor defisit fiskal, inflasi, serta pelemahan nilai tukar rupiah menjadi variabel utama yang membatasi ruang gerak pasar.
“Jadi, kita kalau dikejar-kejar pajak kan juga pasti enggak mau spending, kan? Berarti akan lebih berhati-hati dalam melakukan spending. Kalau perusahaan akan lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi,” ujar Rully dikutip dari pernyataan resminya pada Kamis (20/8).
Ia menambahkan bahwa prospek pasar hingga akhir tahun cenderung stagnan dengan potensi penguatan yang terbatas. Pihaknya menetapkan target IHSG di level 6.800 pada akhir 2026, yang mengimplikasikan bahwa indeks masih akan berada di bawah posisi awal tahun. Rully menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kredibilitas fiskal, dan stabilitas nilai tukar agar pasar dapat kembali menemukan momentum pemulihan. “Karena itu, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, inflasi, kredibilitas fiskal, dan stabilitas nilai tukar menjadi semakin penting,” tutup Rully.

















