IHSG Menguat, Namun Waspadai Potensi Gejolak Pasar Hari Ini

Ikhwan Setiawan

IHSG Menguat, Namun Waspadai Potensi Gejolak Pasar Hari Ini

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan ketahanan yang solid di tengah fluktuasi pasar global pada perdagangan Selasa (21/7/2026).

Pencapaian ini didorong oleh lonjakan nilai transaksi harian serta kembalinya aliran dana masuk dari investor asing ke pasar domestik.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyatakan bahwa tren jangka pendek IHSG saat ini berada dalam lintasan yang positif.

“Bias jangka pendek IHSG masih positif, didukung peningkatan nilai transaksi dan mulai kembalinya foreign inflow ke saham big caps,” jelas Liza, dikutip dari dokumen analisis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Senin (20/7/2026).

Data mencatat rata-rata nilai transaksi harian selama sepekan terakhir mengalami kenaikan signifikan sebesar 36,25% menjadi Rp13,99 triliun.

Pada perdagangan hari Jumat lalu, investor asing bahkan mencatatkan nilai beli bersih atau net buy sebesar Rp725,11 miliar.

Liza memproyeksikan jika IHSG mampu mempertahankan posisi di atas level 6.100 hingga 6.150, maka indeks berpotensi menguji level resistensi di area 6.250 sampai 6.300.

Namun, ia memberikan catatan bahwa penguatan yang terjadi saat ini masih bersifat pemulihan sementara atau relief rally.

“Ini masih relief rally dalam tahap konfirmasi, belum full market re-rating,” tegasnya dalam laporan riset perusahaan.

Ia menambahkan bahwa volatilitas pasar masih akan membayangi pergerakan IHSG ke depannya.

Keberlanjutan tren penguatan ini sangat bergantung pada konsistensi aliran dana asing ke saham berkapitalisasi besar.

“Market tidak hanya membeli announcement, tetapi juga execution,” ujar Liza.

Faktor lain yang turut menjadi penentu adalah stabilitas nilai tukar rupiah dan arah kebijakan moneter Bank Indonesia.

Keberlanjutan reformasi pasar juga disebut sebagai variabel kunci yang akan diperhatikan oleh para pelaku pasar.

Sektor perbankan besar dan saham konglomerasi menjadi motor utama penggerak indeks domestik saat ini.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) memimpin performa indeks.

Selain itu, kelompok saham konglomerasi seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) memberikan kontribusi signifikan.

Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga terpantau menguat.

Menurut analisisnya, prospek sektor perbankan kini terlihat lebih menarik karena valuasi yang mulai kompetitif.

“BBCA tetap unggul dari sisi kualitas, sementara BMRI, BBRI, dan BBNI menawarkan potensi recovery yang lebih besar,” tambah Liza.

Di sisi lain, pengamat pasar modal, Irwan Ariston, memandang pergerakan IHSG saat ini masih berada dalam batas kewajaran.

“Pergerakan hari ini bagi saya pergerakan yang biasa dan wajar. Tidak ada hal khusus yang menjadi pemicunya,” ujarnya dikutip dari catatan pengamat pasar modal.

Pasar saat ini disebut masih menantikan langkah konkret pemerintah dalam memperbaiki struktur anggaran negara.

Stimulus fiskal dari pemerintah diharapkan mampu menjadi katalis tambahan bagi perekonomian domestik di masa mendatang.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar