Jakarta – Di tengah perlambatan ekonomi, saham-saham konglomerat justru menjadi bintang di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun 2025. Sementara itu, saham-saham bank besar tertekan, memicu pergeseran preferensi investor.
Saham-saham unggulan dari Grup Happy Hapsoro memimpin reli, dengan PT Buana Varia Makmur (BUVA) mencatat lonjakan fantastis sebesar 2.718 persen. Kinerja positif ini turut mendongkrak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga naik 22,1 persen.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan nasib saham-saham bank besar. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Mandiri (BMRI) mengalami penurunan masing-masing sebesar 10,3 persen, 16,5 persen, dan 10,5 persen. Hanya Bank Negara Indonesia (BBNI) yang mencatatkan kenaikan tipis 0,5 persen.
Penurunan saham bank besar dipicu oleh sejumlah faktor, termasuk perlambatan ekonomi domestik dan kenaikan suku bunga acuan yang menekan margin bunga bersih. Aksi ambil untung investor menjelang akhir tahun juga turut memperburuk situasi.
Di sisi lain, saham bank digital justru menunjukkan performa yang menggembirakan. PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) memimpin dengan kenaikan sebesar 120,2 persen, diikuti PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) yang melesat 112,9 persen.
Analis pasar modal, Hendra Wardana, menilai tahun 2025 sebagai tahun penyesuaian strategi bagi industri perbankan. Bank-bank besar fokus pada efisiensi biaya dan penguatan permodalan, sementara bank digital menawarkan potensi pertumbuhan yang besar meskipun dengan risiko yang lebih tinggi.
Lonjakan saham konglomerat didorong oleh beberapa faktor, termasuk ekspektasi terhadap kinerja bisnis yang solid dan sentimen positif dari masuknya beberapa saham ke dalam indeks MSCI Indonesia Global Standard.
Selain Grup Happy Hapsoro, sejumlah saham konglomerat lain juga mencatatkan kenaikan signifikan. Saham-saham di bawah naungan Grup Bakrie, seperti PT MDIA dan PT Visi Media Asia (VIVA), juga mengalami lonjakan harga.
Perubahan preferensi investor ini mencerminkan respons terhadap tantangan ekonomi dan regulasi yang berkembang. Investor cenderung mencari peluang di sektor-sektor dengan fundamental yang kuat dan potensi pertumbuhan yang jelas.
Memasuki tahun 2026, sektor perbankan diperkirakan akan tetap konstruktif, terutama jika suku bunga mulai turun dan pertumbuhan kredit kembali meningkat. Sementara itu, saham-saham konglomerat dengan kinerja bisnis yang solid dan katalis positif diprediksi akan terus menarik minat investor.



















