Mayora Jadi Saham Safe Haven Sektor Konsumer Saat Rupiah Melemah

Ikhwan Setiawan

Mayora Jadi Saham Safe Haven Sektor Konsumer Saat Rupiah Melemah

Jakarta – PT Mayora Indah Tbk (MYOR) kini menempati posisi strategis sebagai emiten konsumer yang paling diuntungkan di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Willy Goutama, memberikan rekomendasi beli untuk saham berkode MYOR dengan target harga di level Rp 2.500 per saham.

Status perusahaan sebagai “consumer’s safe haven” menjadi alasan utama di balik optimisme tersebut, sebagaimana tertuang dalam riset tertanggal 31 Juli 2026.

Willy menyebutkan bahwa struktur pendapatan Mayora yang memiliki eksposur global tinggi memberikan perlindungan alami terhadap volatilitas mata uang.

“Di tengah kembali terdepresiasinya rupiah terhadap dolar AS, bisnis global MYOR yang besar, dengan pendapatan yang lebih banyak terkait dolar AS dibandingkan biayanya, menempatkan perusahaan sebagai satu-satunya penerima manfaat di sektor konsumer Indonesia,” ungkap Willy dalam risetnya.

Kondisi ini membuat emiten tersebut memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan perusahaan konsumer domestik lainnya yang cenderung tertekan saat rupiah melemah.

Terkait target harga Rp 2.500 per saham, angka tersebut didasarkan pada valuasi price-to-earnings ratio (PER) sebesar 17,9 kali dari proyeksi laba tahun 2026.

Angka ini dinilai masih sejalan dengan rata-rata historis valuasi perusahaan dalam tiga tahun terakhir.

Berdasarkan proyeksi Maybank Sekuritas, Mayora diprediksi mampu mencatatkan pendapatan mencapai Rp 41,65 triliun dengan laba bersih Rp 3,13 triliun hingga akhir 2026.

Pertumbuhan kinerja tersebut diproyeksikan terus berlanjut ke tahun 2027 dengan estimasi pendapatan sebesar Rp 45,85 triliun dan laba bersih Rp 3,72 triliun.

Kinerja semester pertama tahun 2026 sendiri dinilai telah memenuhi ekspektasi pasar.

Laba inti Mayora tercatat mencapai Rp 1,5 triliun, angka yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 38% secara tahunan setelah mengecualikan keuntungan selisih kurs.

Capaian tersebut setara dengan 49% dari proyeksi Maybank dan 45% dari estimasi konsensus untuk target laba setahun penuh.

Meskipun penjualan pada semester pertama 2026 hanya tumbuh 1% menjadi Rp 17,9 triliun, perusahaan berhasil mencatatkan perbaikan signifikan pada margin laba kotor.

Willy menjelaskan bahwa gross margin Mayora meningkat menjadi 25,7%, atau naik 450 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan margin di tengah tekanan inflasi komoditas bahan baku ini mencerminkan efektivitas strategi operasional yang dijalankan manajemen.

Selain itu, neraca keuangan perusahaan juga mencatat perbaikan dengan posisi kas bersih (net cash) pada kuartal kedua 2026, yang memperkuat fleksibilitas keuangan perseroan.

Terkait perlambatan pertumbuhan penjualan, hal tersebut dinilai hanya bersifat sementara akibat strategi perusahaan menahan pengiriman produk kepada distributor luar negeri.

Langkah ini bertujuan untuk menyesuaikan tingkat persediaan, yang diharapkan akan mendorong pertumbuhan penjualan lebih kuat pada paruh kedua tahun ini.

Meski demikian, analis tetap memberikan catatan terkait risiko utama, yakni potensi pertumbuhan penjualan yang berjalan lebih lambat dari proyeksi awal.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar