Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan tren negatif pada awal perdagangan di pasar spot hari ini, Senin (28/9/2026).
Mata uang Garuda dibuka pada posisi Rp 17.940 per dolar Amerika Serikat (AS).
Posisi tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 0,21% dibandingkan dengan nilai penutupan pada perdagangan Jumat (25/9/2026) yang berada di level Rp 17.903 per dolar AS.
Kondisi pelemahan yang dialami rupiah saat ini terjadi di tengah sentimen negatif yang melanda kawasan Asia.
Hampir seluruh mata uang di kawasan regional terpantau mengalami koreksi terhadap dolar AS sejak pembukaan pasar pagi ini.
Won Korea Selatan mencatatkan penurunan paling signifikan di Asia dengan koreksi mencapai 0,52%.
Tekanan terhadap mata uang regional juga dialami oleh baht Thailand yang terdepresiasi sebesar 0,38%.
Yen Jepang turut mencatatkan pelemahan sebesar 0,28% dalam perdagangan di sesi pagi ini.
Ringgit Malaysia juga tidak luput dari tekanan dengan penurunan nilai sebesar 0,15%.
Dolar Taiwan terpantau melemah tipis sebesar 0,12% terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut.
Dolar Singapura mencatatkan koreksi sebesar 0,09% pada awal perdagangan hari ini.
Sementara itu, peso Filipina dan yuan China masing-masing mencatatkan pelemahan sebesar 0,05% dan 0,03%.
Dolar Hong Kong menjadi pengecualian di pasar Asia hari ini.
Mata uang tersebut menjadi satu-satunya yang mampu menguat terhadap the greenback dengan kenaikan tipis sebesar 0,001%.
Pergerakan nilai tukar ini dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global yang sedang berkembang.
Dolar AS saat ini tengah mendapatkan dorongan penguatan yang cukup kuat di pasar global.
Penguatan dolar AS tersebut ditopang oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.
Taruhan pasar terhadap sikap hawkish dari bank sentral AS, The Fed, dilaporkan mengalami peningkatan signifikan.
Kebijakan suku bunga yang berpotensi tetap tinggi dalam durasi lebih lama memicu arus modal masuk ke aset berbasis dolar AS.
Kondisi ini membuat mata uang di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, cenderung tertekan secara kolektif.
Para pelaku pasar kini tengah memantau perkembangan lebih lanjut terkait eskalasi konflik di Timur Tengah.
Selain itu, setiap pernyataan dari pejabat The Fed mengenai arah suku bunga akan menjadi perhatian utama pasar keuangan dalam beberapa hari ke depan.
Volatilitas di pasar mata uang diperkirakan masih akan berlanjut seiring dengan ketidakpastian kondisi global.
Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap perubahan arah kebijakan moneter dan situasi keamanan internasional yang berdampak langsung pada nilai tukar.























