Jakarta – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatatkan penurunan tajam sebesar 14 persen pada perdagangan Senin (28/9/2026).
Nilai saham perusahaan teknologi tersebut merosot hingga menyentuh level Rp 43 per lembar.
Pergerakan harga ini terjadi tepat setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi menghapus kebijakan batas harga minimum Rp 50 per saham.
Sebelumnya, emiten dengan kode GOTO ini sempat tertahan di level Rp 50 selama hampir empat bulan akibat aturan tersebut.
Kebijakan harga minimum yang sempat berlaku selama lebih dari satu dekade ini bertujuan melindungi investor dari fluktuasi harga yang terlalu ekstrem.
Namun, mekanisme ini justru dikeluhkan oleh banyak investor karena membuat saham yang menyentuh level tersebut menjadi tidak likuid atau sulit diperdagangkan.
Bursa saham utama di dunia umumnya lebih mengandalkan mekanisme circuit breaker atau penghentian perdagangan sementara untuk meredam volatilitas pasar.
Penghapusan aturan batas bawah ini merupakan bagian dari upaya regulator untuk meningkatkan likuiditas di pasar modal Indonesia.
Langkah ini diambil menyusul adanya peringatan dari MSCI mengenai potensi penurunan peringkat pasar Indonesia menjadi pasar negara berkembang.
Kekhawatiran MSCI tersebut berakar pada rendahnya daya tarik investasi di beberapa sektor pasar saham nasional.
Saat ini, tercatat lebih dari seratus saham yang tergabung dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level harga Rp 50 atau bahkan lebih rendah.
Regulasi baru tersebut memungkinkan saham-saham di bawah Rp 50 untuk diperdagangkan melalui mekanisme lelang panggilan penuh (full call auction).
Mekanisme ini bekerja dengan mencocokkan pesanan beli dan jual pada waktu yang telah dijadwalkan secara sistematis, bukan melalui perdagangan kontinu.
GOTO sendiri merupakan perusahaan yang didukung oleh raksasa teknologi Alibaba Group Holding Ltd.
Pada masa awal pencatatan sahamnya di bursa pada April 2022, perusahaan ini sempat menjadi salah satu entitas paling bernilai di Indonesia.
Saat itu, kapitalisasi pasar GOTO tercatat mencapai lebih dari US$ 32 miliar.
Namun, sentimen investor perlahan memudar seiring dengan persaingan ketat melawan kompetitor bermodal besar seperti Grab Holding Ltd.
Tekanan persaingan yang sengit tersebut sempat memicu kerugian finansial yang cukup besar bagi perusahaan selama beberapa tahun terakhir.
Meskipun perusahaan telah melakukan serangkaian restrukturisasi dan perubahan kepemimpinan, respons pasar tetap terlihat dingin.
Bahkan, keberhasilan GOTO membukukan laba kuartalan secara berturut-turut hingga Juli lalu tidak cukup kuat untuk membangkitkan antusiasme investor secara signifikan.
Kondisi ini menegaskan tantangan berat yang dihadapi emiten teknologi dalam mempertahankan nilai kapitalisasinya di tengah dinamika pasar modal yang semakin terbuka dan kompetitif.

















