Jakarta – Memilih instrumen simpanan yang tepat menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas keuangan di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Banyak masyarakat masih keliru dalam membedakan fungsi antara tabungan biasa dan tabungan berjangka.
Perencana keuangan menekankan bahwa pemilihan produk perbankan harus disesuaikan dengan tujuan finansial, bukan sekadar mengejar suku bunga tinggi.
Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia, Dandy, menegaskan bahwa prioritas utama setiap individu adalah mengumpulkan dana darurat terlebih dahulu.
“Bisa ambil tabungan berjangka kalau dana darurat sudah terkumpul tiga bulan pengeluaran bulanan. Kalau belum, saran saya tabungan biasa dulu sampai dana darurat terkumpul,” ujar Dandy.
Ia menambahkan, tabungan berjangka sangat efektif bagi mereka yang memiliki kendala dalam kedisiplinan menabung karena adanya fitur autodebet.
Namun, Dandy juga mengingatkan nasabah untuk mempertimbangkan opportunity cost atau potensi keuntungan yang hilang akibat bunga tabungan berjangka yang cenderung terbatas.
Senada dengan hal tersebut, Perencana Keuangan OneShildt Consulting, Budi Rahardjo, menjelaskan bahwa perbedaan bunga antara kedua produk tersebut disebabkan oleh fleksibilitas akses dana.
“Biasanya tabungan berjangka memberikan tingkat bunga lebih tinggi daripada tabungan biasa karena fungsinya memang berbeda,” kata Budi.
Budi menjelaskan bahwa tabungan biasa lebih difokuskan sebagai rekening transaksi harian yang memudahkan mobilitas keuangan nasabah.
Sementara itu, tabungan berjangka lebih direkomendasikan bagi masyarakat yang memiliki target keuangan jangka menengah dengan rentang waktu satu hingga lima tahun.
“Tabungan berjangka biasanya lebih untuk tujuan di atas satu tahun tetapi tidak lebih dari lima tahun ke depan,” pungkas Budi.





















