Jakarta – Pemerintah menegaskan bahwa fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di sejumlah sektor industri merupakan bagian dari dinamika pasar yang kompetitif.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa kondisi pasar tenaga kerja tidak bisa hanya dinilai dari jumlah perusahaan yang tutup atau melakukan efisiensi.
Menurutnya, publik perlu melihat gambaran yang lebih luas dengan membandingkan jumlah perusahaan yang keluar dengan munculnya entitas bisnis baru.
“Di ekonomi itu selalu ada seperti itu. Dalam pasar yang kompetitif ada keluar masuk (perusahaan), entry dan exit,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Selasa (21/7).
Ia menekankan bahwa indikator utama kesehatan ekonomi nasional saat ini tercermin dari tren penurunan angka pengangguran.
Purbaya meyakini bahwa jumlah lapangan kerja baru yang tercipta saat ini masih lebih besar dibandingkan dengan posisi yang hilang akibat PHK.
“Kalau kita lihat unemployment (pengangguran) turun, sepertinya sih banyak penciptaan lapangan kerja dibanding yang keluar,” jelasnya.
Pemerintah menilai pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5 persen menjadi bukti bahwa aktivitas ekonomi nasional tetap berjalan positif.
Meski mengakui adanya tantangan di sektor tertentu, Purbaya memastikan pemerintah terus memantau situasi tersebut melalui pemberian berbagai stimulus ekonomi.
Langkah ini diambil agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga sehingga peluang terciptanya lapangan kerja baru semakin terbuka lebar.
“Pemerintah ngasih stimulus macam-macam kepada ekonomi supaya ekonomi bisa tumbuh lebih cepat,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa penilaian terhadap kondisi ekonomi harus dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai indikator makro.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I 2026, meski di saat bersamaan efisiensi industri masih terus berlangsung.




















