Jakarta – PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) mencatatkan lonjakan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang semester I-2026.
Laporan keuangan perusahaan menunjukkan pertumbuhan laba bersih yang melesat tajam dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Emiten ini berhasil membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 1,06 triliun hingga akhir Juni 2026.
Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 73,2 persen secara tahunan atau year-on-year dibandingkan catatan semester I-2025 yang berada di angka Rp 613,4 miliar.
Lonjakan laba bersih ini didorong oleh peningkatan pendapatan yang cukup agresif di sepanjang semester pertama tahun ini.
Total penjualan neto perusahaan tercatat mencapai Rp 5,49 triliun hingga akhir semester I-2026.
Perolehan tersebut melonjak 34,6 persen dibandingkan realisasi penjualan pada periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 4,08 triliun.
Manajemen merinci bahwa kontribusi pendapatan terbesar masih ditopang oleh segmen minuman yang mencapai Rp 5,8 triliun.
Sementara itu, segmen makanan menyumbang pendapatan sebesar Rp 28 miliar.
Setelah dikurangi biaya eliminasi sebesar Rp 336 miliar, perseroan mengonfirmasi angka penjualan neto final berada di level Rp 5,49 triliun.
Peningkatan pendapatan ini secara otomatis mendongkrak laba bruto perusahaan menjadi Rp 1,89 triliun.
Sebagai perbandingan, laba bruto pada periode yang sama tahun lalu tercatat sebesar Rp 1,36 triliun.
Efisiensi beban penjualan yang dilakukan perusahaan memberikan dampak positif terhadap profitabilitas operasional.
Laba usaha atau operating profit tercatat melonjak sebesar 74 persen menjadi Rp 1,29 triliun.
Pencapaian tersebut meningkat drastis dari capaian sebelumnya yang berada di angka Rp 746,3 miliar.
Hasil tersebut juga terbantu oleh kontribusi laba selisih kurs neto sebesar Rp 55 miliar.
Selain itu, perseroan mencatatkan pendapatan keuangan neto sebesar Rp 36,3 miliar.
Dengan demikian, laba sebelum beban pajak penghasilan perusahaan mencapai Rp 1,33 triliun.
Angka tersebut naik signifikan dibandingkan posisi semester I-2025 yang sebesar Rp 779,9 miliar.
Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan sebesar Rp 272,3 miliar, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat mencapai Rp 1,04 triliun.
Jumlah tersebut melonjak 73,7 persen dibandingkan periode serupa tahun lalu yang sebesar Rp 603,8 miliar.
Performa positif ini turut meningkatkan laba per saham dasar atau basic earnings per share menjadi Rp 101 per saham.
Nilai tersebut naik tajam dari Rp 58 per saham pada semester I-2025.
Dari sisi posisi neraca, perseroan melaporkan total aset sebesar Rp 9,06 triliun per 30 Juni 2026.
Posisi aset ini mengalami penurunan dibandingkan catatan akhir Desember 2025 yang mencapai Rp 9,25 triliun.
Per 30 Juni 2026, total liabilitas perusahaan tercatat sebesar Rp 1,04 triliun.
Di saat yang sama, total ekuitas perseroan berada di posisi Rp 8,01 triliun.






















