Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memperingatkan potensi perlambatan ekspor Indonesia jika konflik di Timur Tengah berlarut-larut.
Budi menyampaikan kekhawatiran ini di Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Jumat (27/3).
Menurutnya, perang yang berkepanjangan dapat menekan pertumbuhan ekspor Indonesia. “Paling tidak ekspor kita bisa pertumbuhannya bisa lebih rendah daripada tahun lalu,” ujarnya.
Data menunjukkan ekspor Indonesia ke Timur Tengah pada 2023 mencapai US$9,87 miliar, setara Rp167,49 triliun atau 3,49 persen dari total ekspor nasional.
UEA menjadi kontributor terbesar dengan 40 persen, disusul Arab Saudi (29 persen) dan Iran (2,5 persen atau US$250 juta).
Budi menjelaskan dampak konflik lebih terasa pada sektor logistik. Kenaikan harga minyak dan penutupan jalur pelayaran membuat distribusi lebih panjang dan mahal.
“Dampaknya sebenarnya lebih banyak ke logistik, alat angkutnya. Karena memang harga minyak kan naik,” jelasnya.
Meski permintaan dari Timur Tengah masih ada, biaya transportasi yang lebih tinggi menambah beban pelaku usaha.
Pemerintah melihat peluang dari kenaikan harga komoditas seperti CPO dan batu bara untuk mendorong nilai ekspor.
Selain itu, pemerintah mendorong pelaku usaha memperluas pasar ke Amerika Latin, Asia Tenggara, dan negara-negara RCEP.
Upaya lain termasuk efisiensi logistik dalam negeri untuk menekan biaya distribusi dan meningkatkan daya saing ekspor.
Pemerintah masih menunggu data terbaru untuk menghitung proyeksi dampak lebih lanjut. Namun, Budi menegaskan peluang perlambatan ekspor tetap terbuka jika konflik terus berlanjut.





















