Jakarta – PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mencatatkan lonjakan laba bersih pada semester pertama tahun 2026, namun mayoritas keuntungan tersebut tidak terserap oleh pemilik entitas induk.
Laporan keuangan perseroan per 30 Juni 2026 menunjukkan laba periode berjalan mencapai Rp10,08 miliar.
Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 25 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp8,05 miliar.
Kendati demikian, porsi laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hanya tercatat sebesar Rp1,12 miliar.
Sebaliknya, sebanyak Rp8,95 miliar atau sekitar 88,79 persen dari total laba justru mengalir kepada kepentingan nonpengendali.
Kondisi ini memicu perhatian di kalangan investor terkait struktur pembagian hasil usaha perusahaan.
Besarnya porsi laba bagi pihak nonpengendali dipicu oleh struktur kepemilikan saham VKTR di sejumlah anak usaha yang belum mencapai kepemilikan penuh.
Anak-anak usaha tersebut saat ini menjadi kontributor utama terhadap laba konsolidasi perusahaan.
Berdasarkan Laporan Keuangan Perseroan hingga 30 Juni 2026, terdapat tiga entitas anak dengan kepemilikan saham yang tidak mencapai 100 persen.
Ketiga entitas tersebut adalah PT VKTR Sakti Industries (VSI), PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI), dan PT Braja Mukti Cakra (BMC).
Pada PT VKTR Sakti Industries (VSI) yang fokus pada perakitan kendaraan, VKTR hanya menguasai 60 persen saham.
Hal tersebut menyebabkan adanya kepentingan nonpengendali sebesar 40 persen pada entitas tersebut.
Sementara itu, pada PT Braja Mukti Cakra (BMC) yang bergerak di industri suku cadang, VKTR memiliki kepemilikan tidak langsung melalui PT Bakrie Autoparts sebesar 50 persen.
Implikasinya, separuh dari laba yang dihasilkan BMC menjadi hak pemegang saham nonpengendali.
Pada sisi lain, kepemilikan VKTR di PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI) telah meningkat signifikan menjadi 99,99 persen per 30 Juni 2026.
Sebelumnya, pada akhir tahun 2025, kepemilikan VKTR di SEI tercatat sebesar 51 persen.
Ketergantungan terhadap ekuitas pihak luar juga terlihat dari tambahan modal sebesar Rp100 miliar yang disuntikkan pemegang saham nonpengendali ke VSI sepanjang tahun 2025.
Secara operasional, VKTR mencatatkan kinerja penjualan neto sebesar Rp646,62 miliar pada semester pertama 2026.
Nilai tersebut melonjak 56,17 persen YoY dari posisi Rp414,03 miliar pada semester pertama 2025.
Pertumbuhan penjualan terutama didorong oleh sektor perdagangan komponen suku cadang dan besi bekas sebesar Rp533,53 miliar.
Sedangkan penjualan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai memberikan kontribusi senilai Rp114,72 miliar.
Setelah dikurangi potongan dan retur penjualan sebesar Rp1,63 miliar, total penjualan bersih tercatat mencapai Rp646,62 miliar.
Seiring dengan kenaikan pendapatan, beban pokok penjualan juga mengalami peningkatan menjadi Rp534,17 miliar dari Rp334,90 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
VKTR, sebagai bagian dari Grup Bakrie, terus memposisikan diri dalam pengembangan bisnis berbasis energi hijau yang mencakup perdagangan kendaraan listrik, suku cadang, serta jasa industri karoseri.






















