Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi signifikan sebesar 1,88% pada perdagangan Jumat (24/7/2026), yang membawa indeks ke level 6.196,43.
Meskipun terjadi pelemahan tajam di penghujung pekan, IHSG secara akumulatif masih mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,34% dalam kurun waktu satu minggu terakhir.
Sentimen negatif yang memicu tekanan jual ini didorong oleh kombinasi faktor eksternal dan aksi ambil untung oleh para investor.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa volatilitas pasar yang terjadi merupakan respons wajar setelah indeks mengalami reli panjang pada periode sebelumnya.
“IHSG sepanjang pekan ini bergerak cukup volatil dengan kecenderungan mengalami konsolidasi setelah reli pada periode sebelumnya,” ujar Nafan sebagaimana dikutip dari laporan resmi pada Jumat (24/7/2026).
Ia menyoroti bahwa investor saat ini tengah meningkatkan kewaspadaan terhadap kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang dinilai semakin restriktif.
Selain itu, penguatan nilai tukar dolar AS turut menekan minat pelaku pasar terhadap aset berisiko di pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, sektor perbankan dan konsumsi dinilai masih menjadi pilar utama yang menopang pergerakan indeks di tengah ketidakpastian global.
Faktor global yang saat ini menjadi perhatian utama pasar meliputi kebijakan tarif baru dari Presiden AS Donald Trump, arah suku bunga The Fed, serta fluktuasi imbal hasil obligasi US Treasury.
Secara teknikal, Nafan memproyeksikan IHSG pada awal pekan depan akan bergerak dengan level support berada di kisaran 6.137 hingga 6.012.
Sementara itu, level resistance indeks diperkirakan berada pada rentang 6.261 hingga 6.416.
Pandangan senada disampaikan oleh Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, yang menilai tekanan eksternal menjadi beban utama performa bursa domestik.
“Selama sepekan ini, IHSG bergerak melemah tipis,” ungkap Herditya dalam catatan pasar yang dirilis pada Jumat (24/7/2026).
Ia menambahkan bahwa eskalasi ketegangan di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga minyak mentah dunia hingga mendekati level US$100 per barel.
Situasi geopolitik tersebut dikhawatirkan akan memicu kembali inflasi global yang sempat mereda.
Kebijakan tarif impor baru dari AS sebesar 10% hingga 12,5% yang menyasar 60 mitra dagang, termasuk Indonesia, turut menambah beban sentimen negatif.
Namun, stabilitas nilai tukar rupiah pasca keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% dinilai mampu menjadi bantalan bagi pasar.
Ke depan, para pelaku pasar akan sangat mencermati hasil pertemuan FOMC serta rilis data ekonomi Amerika Serikat seperti PDB dan PCE kuartal II-2026.
Herditya merekomendasikan investor untuk mencermati beberapa saham emiten, di antaranya PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Sentul City Tbk (BKSL), dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA).
Untuk pekan depan, ia memperkirakan IHSG masih memiliki peluang untuk menguat secara terbatas dengan level support di 5.987 dan resistance di 6.268.



















