Jakarta – Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan depan.
Tren positif ini terpantau setelah pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026), kurs rupiah spot berhasil menguat sebesar 0,15% ke level Rp 17.897 per dolar AS.
Secara akumulatif dalam sepekan terakhir, mata uang Garuda mencatatkan apresiasi sebesar 0,69% dibandingkan posisi pada Jumat (31/7/2026) yang berada di angka Rp 18.022 per dolar AS.
Analis menilai stabilitas ekonomi domestik menjadi fondasi utama dalam menjaga pergerakan mata uang nasional di tengah tekanan global.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 17.750 hingga Rp 18.150 per dolar AS pada pekan mendatang.
Menurut Lukman, keberlanjutan penguatan ini sangat bergantung pada absennya eskalasi konflik di Timur Tengah serta rilis data inflasi Amerika Serikat yang diharapkan melambat sesuai ekspektasi pasar.
“Rupiah sepekan ini menguat terhadap dolar AS didukung oleh menurunnya harga minyak dunia di tengah harapan perdamaian dan dibukanya Selat Hormuz. Data-data ekonomi domestik yang solid juga mendukung rupiah,” ujar Lukman, Jumat (7/8/2026).
Penurunan harga minyak dunia memang memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan karena mengurangi tekanan biaya energi secara global.
Di sisi lain, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan proyeksi yang sedikit lebih konservatif dengan rentang pergerakan antara Rp 17.780 hingga Rp 18.020 per dolar AS.
Ibrahim menekankan bahwa pergerakan nilai tukar akan tetap bersifat fluktuatif karena masih dibayangi oleh sentimen eksternal yang kuat.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta dinamika kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, menjadi variabel yang terus dipantau ketat oleh para pelaku pasar.
Meski demikian, posisi cadangan devisa Indonesia yang terjaga dengan baik dinilai menjadi bantalan kuat yang mampu meredam volatilitas pasar uang domestik.
Optimisme pasar juga didorong oleh harapan akan stabilitas pasokan energi melalui jalur perdagangan vital seperti Selat Hormuz.
Secara teknikal, penguatan rupiah yang terjadi dalam sepekan terakhir menunjukkan adanya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Para analis sepakat bahwa meskipun tantangan global masih membayangi, ketahanan ekonomi domestik tetap menjadi katalis utama bagi nilai tukar rupiah.
Pelaku pasar kini menanti rilis data makro ekonomi terbaru yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter ke depan.
Sepanjang pekan depan, investor diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam mengambil posisi sembari memantau perkembangan situasi geopolitik global.
Kondisi ini menempatkan rupiah dalam posisi yang cukup kompetitif di tengah arus modal yang masuk ke pasar negara berkembang.




















