Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Kamis (20/8/2026).
Mata uang Garuda ditutup menguat 92 poin ke level Rp 17.748 per dolar AS.
Posisi ini menunjukkan perbaikan dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp 17.840 per dolar AS.
Kondisi geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor penentu utama yang memengaruhi dinamika pasar valuta asing saat ini.
Ketidakpastian lalu lintas kapal di Selat Hormuz memicu kewaspadaan tinggi di kalangan pelaku pasar global.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa ketegangan di kawasan tersebut menciptakan sentimen negatif yang berkepanjangan.
“Pasar bersiap menghadapi potensi kebuntuan berkepanjangan di jalur perairan strategis tersebut setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan memberlakukan pembatasan ekonomi tambahan yang ketat terhadap Iran,” ujar Ibrahim Assuaibi dikutip dari laporan analisis pasar, Kamis (20/8/2026).
Pihak Gedung Putih hingga saat ini belum memberikan rincian spesifik mengenai skema pembatasan ekonomi tersebut.
Namun, instruksi tegas telah dikeluarkan agar negara sekutu AS tidak melakukan transaksi bisnis dengan Iran.
Dampaknya, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terpantau mengalami penurunan drastis.
Banyak pemilik kapal memilih untuk menghindari jalur vital tersebut akibat minimnya kepastian keamanan pascakonflik.
Selain faktor geopolitik, kebijakan internal Amerika Serikat turut memberikan tekanan pada pergerakan dolar AS.
Departemen Keuangan AS baru saja meningkatkan program pembelian kembali atau buyback untuk surat berharga pemerintah berjangka panjang.
Langkah ini diambil untuk menjaga likuiditas surat utang sekaligus mengendalikan biaya pinjaman jangka panjang yang sempat melonjak.
Hasilnya, imbal hasil Treasury AS tenor sepuluh tahun turun lebih dari 5 basis poin (bps).
Sementara itu, yield untuk tenor 30 tahun tercatat turun hampir 9 bps.
Di sisi lain, kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) tetap menjadi perhatian utama investor global.
Risalah rapat The Fed bulan Juli menunjukkan adanya perdebatan mengenai potensi kenaikan suku bunga lanjutan.
Sejumlah pembuat kebijakan menilai langkah agresif diperlukan jika inflasi tidak melandai secara konsisten.
Pada pertemuan tersebut, suku bunga acuan AS tetap dipertahankan pada kisaran 3,5%-3,75%.
Dari dalam negeri, pasar merespons positif rencana pemerintah untuk memangkas kuota BBM bersubsidi sebesar 58,5% pada 2027 mendatang.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi pengendalian subsidi energi nasional.
Pemerintah juga menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$75 per barel dalam asumsi makro 2027.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan harga minyak dunia yang saat ini menyentuh level US$83 per barel.
“Pembatasan kuota yang cukup besar berpotensi meningkatkan beban pengeluaran apabila masyarakat harus beralih ke BBM nonsubsidi,” jelas Ibrahim Assuaibi.
Investor saat ini juga tengah menanti rilis data transaksi berjalan Indonesia kuartal II 2026 yang akan diumumkan pekan ini.
Adanya kekhawatiran mengenai pelebaran defisit transaksi berjalan masih membayangi sentimen pelaku pasar domestik.
Kinerja sektor eksternal ini diperkirakan tertekan oleh perlambatan perdagangan akibat gejolak harga minyak dunia.





















