Saham Disuspensi Sejak 2019, Trikomsel Siapkan Strategi Pulihkan Kinerja

Ikhwan Setiawan

Saham Disuspensi Sejak 2019, Trikomsel Siapkan Strategi Pulihkan Kinerja

Jakarta – PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO) kini tengah mengintensifkan upaya pemulihan kinerja keuangan sekaligus menempuh langkah krusial untuk mencabut suspensi perdagangan saham yang telah membekukan aset investor sejak periode 2019-2020.

Manajemen perusahaan saat ini memfokuskan operasional pada tiga pilar transformasi strategis guna membangun sumber pendapatan baru.

Ketiga pilar tersebut mencakup pengembangan ekosistem omnichannel, ekspansi ke segmen gawai berbasis kecerdasan buatan (AI gadget), serta penetrasi ke sektor ekonomi hijau melalui pengelolaan sampah terpadu.

Direktur PT Trikomsel Oke Tbk, Djoko Harijanto, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (17/7/2026), menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan upaya untuk memperbaiki fundamental usaha.

“Transformasi bisnis ini merupakan langkah strategis Perseroan untuk memperkuat fundamental usaha, meningkatkan kinerja, serta menciptakan peluang pertumbuhan jangka panjang,” ujar Djoko dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Jumat (17/7/2026).

Berdasarkan data internal perusahaan, progres dari tiga inisiatif strategis tersebut dilaporkan telah mencapai angka 30 persen hingga pertengahan tahun ini.

Capaian tersebut mencakup berbagai tahapan krusial, mulai dari penjajakan kemitraan strategis, pengembangan produk, hingga penyiapan infrastruktur pendukung yang diperlukan.

Strategi omnichannel yang mengintegrasikan kanal penjualan digital dengan gerai fisik diklaim telah memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan perusahaan sepanjang semester pertama 2026.

“Penguatan omnichannel menjadi salah satu fondasi penting dalam meningkatkan daya saing bisnis ritel gawai di tengah perubahan perilaku konsumen,” ungkap Djoko.

Di sektor ekonomi hijau, perusahaan mengembangkan proyek pengolahan sampah dengan teknologi biokonversi menggunakan Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.

Proyek ini bertujuan mengolah sampah organik menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, seperti protein pakan hewan dan pupuk organik.

Untuk memastikan daya saing, perusahaan menerapkan standar internasional seperti GMP Plus dan HACCP pada produk akhir berupa insect meal dan insect oil.

Saat ini, proyek percontohan pengolahan sampah campuran (Municipal Solid Waste) telah berjalan, dengan potensi perluasan jangkauan ke kawasan permukiman dan operator jalan tol.

Terkait kewajiban finansial, perusahaan terus melanjutkan proses restrukturisasi utang secara intensif bersama pihak perbankan.

Hingga Mei 2026, tercatat pembayaran cicilan pokok utang telah mencapai Rp 14,46 miliar, dengan target total pembayaran sebesar Rp 30 miliar hingga akhir tahun.

Per 30 Juni 2026, saldo utang pokok perusahaan tercatat sebesar Rp 1,04 triliun kepada Bank BNI dan Rp 208 miliar kepada Bank Mandiri.

“Perusahaan terus menjaga komunikasi dengan kreditur dan berkomitmen menyelesaikan kewajiban sesuai kemampuan keuangan yang ada,” tegas Djoko.

Selain restrukturisasi, perseroan juga berkoordinasi dengan GLAS Trust terkait administrasi kepemilikan saham bagi para pemegang obligasi.

Langkah ini diproyeksikan dapat membantu pemenuhan ketentuan batas minimal saham publik (free float) yang dipersyaratkan oleh Bursa Efek Indonesia.

Pemenuhan ketentuan tersebut menjadi syarat mutlak bagi perusahaan dalam upaya membuka kembali perdagangan saham TRIO di pasar modal setelah sekian lama tidak aktif.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar